"Untuk industri yang impor bahan baku untuk (produksi barang) ekspor, (dampak pelemahan rupiah) itu netral karena mereka mengekspor dengan rupiah yang lebih mahal. Memang industri yang impor untuk kemudian dijual dalam rupiah, memang itu saya yakin mereka mengalami sedikit kesulitan karena bahan bakunya menjadi lebih mahal," jelasnya di kantor Kepresidenan, Rabu (11/3).
Sofyan mengatakan pelemahan kurs merupakan fenomena global yang bermuara dari pemulihan ekonomi Negeri Paman Sam. Karenanya, kejatuhan nilai mata uang tidak hanya terjadi pada rupiah, tetapi juga mayoritas mata uang negara di dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi industri dalam negeri yang menggunakan bahan baku domestik, kata Sofyan, penguatan dolar AS justru berdampak positif. Sebab, produsen tidak menggunakan valas dalam komponen biayanya, sedangkan produk yang diekspornya akan mendatangkan dolar. "Jadi yang impor untuk pasar domestik itu yang terpengaruh," tuturnya.
"Nanti begitu pemerintah Amerika sudah menetapkan policy tentang penyesuaian federal rate itu akan ada keseimbangan baru dan investasi akan kembali lagi," tuturnya.
Untuk itu, Menteri Sofyan mengingatkan rakyat Indonesia untuk mulai terbiasa hidup di tengah iklim keterbukaan ekonomi global. "Tapi ini akan kembali (normal), tidak usah khawatir. Yang penting masyarakat jangan panik.," tuturnya.
Paket Kebijakan
Sofyan menambahkan dampak depresiasi kurs tidak bisa digeneralisasi dan harus dilihat secara kasus per kasus. Untuk itu, pemerintah tengah merumuskan paket kebijakan untuk mengatasi permasalahan ekonomi makro yang cukup kompleks.
"Kami sedang menggodok sebuah paket yang lengkap melihat satu per satu dan kita perlu komunikasi dengan industri apa masalah yang dihadapi," tuturnya.
Sayangnya, Sofyan Djalil tidak merinci arah paket kebijakan yang dimaksud. (ags)