Berkah Kepiting 'Reject' Jadi Bisnis Bernilai Puluhan Juta

Deddy S, CNN Indonesia | Jumat, 13/03/2015 14:07 WIB
Berkah Kepiting 'Reject' Jadi Bisnis Bernilai Puluhan Juta Filsa Budi Ambia, pebisnis peyek kepiting dari Balikpapan. (CNN Indonesia/Deddy S)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rupiah boleh goncang, tapi tidak dengan bisnis yang dirintis Filsa Budi Ambia, mahasiswa dari Universitas Balikpapan, Kalimantan Timur, sejak dua tahun lalu. Bisnis peyek kepiting yang didirikannya tetap tegar.

Bahan baku peyek bermerek Kampoeng Timoer itu memang bersumber langsung dari peternak kepiting yang merupakan komoditas kelautan khas dari kota di Kalimantan Timur itu.

“Kepiting dari Balikpapan itu yang terbesar di Indonesia dan sudah diekspor juga,” kata Filsa kepada CNN Indonesia, di Jakarta, Jumat (13/3).


Dari urusan ekspor inilah ide membuat peyek muncul. Ceritanya, banyak kepiting yang hendak diekspor justru ditolak karena berbagai alasan. Sebagai contoh jumlah capit atau kaki yang kurang akan langsung ditolak.

Nah, kepiting-kepiting ‘reject’ ini biasanya membingungkan peternak. “Mau dijual ke mana?” katanya. “Kalau dijual ke pasar juga jadi spekulasi, laku atau tidak.”

Sementara di sisi yang lain, Filsa sendiri ingin merintis wirausaha. Dia melihat ada tren pasar dan bisnis sejumlah perusahaan besar sedang mengarah ke produk-produk makanan tradisional yang sehat dan alami. Mereka membuat snack dari tempe, keripik, dan sebagainya.

Dari sana muncul ide membuat peyek. “Siapa yang enggak tahu rempeyek di Indonesia?” katanya. Di awal, perantau dari Banyumas, Jawa Tengah, ini membuat peyek berbahan utama kacang tanah. Hasilnya tak memuaskan.

Kombinasi antara ide snack tradisional dan adanya kepiting-kepiting ‘reject’ tadi melahirkan ide peyek Kampoeng Timoer. Awalnya dipasarkan di antara teman-teman dekatnya dan hasilnya positif.

Filsa mulai mengemas produk peyek secara serius dan memasarkannya via sosial media. “Banyak yang penasaran,” tutur pemenang pertama Wirausaha Muda Mandiri 2015 bidang usaha boga ini.

Usahanya kemudian berkembang dan produk itu sudah mampu menembus peritel-peritel besar di Kalimantan. Produknya juga terdistribusi ke berbagai wilayah di Indonesia melalui distributor independen.

Dari bisnisnya ini, mahasiswa yang memilih cuti sementara kuliah ini, sudah meraup omzet lebih dari Rp 60 juta per bulan. Lantaran bahan baku yang lokal, depresiasi rupiah tak berdampak pada bisnisnya.

Filsa mengakui, apa yang sudah dicapainya belum maksimal. Ada kendala pada peningkatan kapasitas produksi. Kegiatan produksinya masih mengandalkan mesin hasil desain sendiri dan tenaga manusia.

Bagaimana kepiting jadi peyek?

Filsa mengatakan, untuk membuat peyek kepiting dibutuhkan bahan baku kepiting segar hasil ‘reject’ ekspor. Kepiting diambil dagingnya saja. Sedangkan cangkangnya dikirim ke Pulau Jawa untuk dijadikan pakan ternak.

Resep peyeknya sendiri adalah hasil pengembangan dari resep peyek tradisional. “Eksperimen-eksperimen sampai akhirnya ketemu resep dan rasa yang pas,” katanya.

Peyek kepiting Kampoeng Timur dijual dengan harga Rp 15 ribu dan Rp 25 ribu tergantung bobot kemasannya. Rempeyek dijual dalam rasa orisinil dan pedas.

(ded/ded)