Aksi Jual Mengantui, IHSG Diprediksi Melemah

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Senin, 13/04/2015 06:37 WIB
Aksi Jual Mengantui, IHSG Diprediksi Melemah Pegawai memperhatikan pergerakan saham melalui laptop, dalam pameran Keuangan Rakyat, Jakarta, Minggu, 21 Desember 2014. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan berada dalam rentang support 5.468-5.482 dan resisten 5.500-5.516 pada perdagangan Senin (13/4), dengan kecenderungan melemah karena potensi maraknya aksi jual.

Head of Research PT NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada mengatakan laju IHSG gagal mendekati area target resisten (5.512-5.524) dan juga sempat bergerak di area target support (5.470-5.489).

“Peluang penguatan tertutupi dengan maraknya aksi jual. Jika aksi ini terus berlanjut bukan tidak mungkin pelemahan lanjutan dapat terjadi. Akan tetapi, kami harapkan jikapun terjadi pelemahan maka tidak terlalu signifikan agar tidak membuka peluang tren pelemahan,” ujarnya dalam riset, dikutip Senin (13/4).


Terkait perdagangan terakhir, laju IHSG yang diharapkan dapat melanjutkan penguatan tampaknya tidak terjadi di akhir pekan kemarin, di mana cenderung berbalik melemah. Pasca menyentuh level tertingginya di 5.509, IHSG tidak mampu mempertahankan posisinya sehingga cenderung terkoreksi.

“Apalagi jika dibandingkan dengan laju mayoritas bursa saham Asia tentunya IHSG termasuk yang melemah. Kondisi ini juga kontras dengan harapan kami sebelumnya, pelemahan yang terjadi sebelumnya dapat ditahan dengan kembali adanya aksi beli,” jelasnya.

Tentunya, lanjut Reza, pihaknya sempat berharap aksi beli tersebut dapat terjadi sehingga dapat mengkonfirmasi peluang kenaikan secara teknikal. Meski masih terdapat utang gap lama di level 5.342-5.372 (17-18 Februari) dan utang gap di level 5.397-5.411 (27-28 Maret 2015), namun sepanjang dapat diimbangi dengan aksi beli maka kenaikan pun dapat kembali terjadi.

“Masih adanya transaksi jual bersih investor asing yang dibarengi tidak banyaknya saham-saham kapitalisasi besar dalam top gainer memberikan sentimen negatif. Bahkan, masih berlanjutnya penguatan nilai Rupiah tidak mampu mengimbangi sentimen negatif tersebut,” kata Reza.

Dari regional, tidak terlalu tingginya angka inflasi Tiongkok memberikan sentimen positif pada pasar saham Asia, terutama Negeri Tirai Bambu dan sekitarnya. Dengan angka inflasi yang tidak terlalu tinggi tersebut memberikan persepsi pada pelaku pasar belum akan adanya pengetatan ekonomi Tiongkok.

“Di sisi lain, pasca menyentuh level 20.000, laju Nikkei cenderung melemah seiring mulai adanya aksi profit taking,” ungkap Reza.

Sementara, laju pasar saham Eropa masih melanjutkan pergerakan positifnya seiring respon pelaku pasar terhadap berlanjutnya pelemahan laju Euro. Reza menilai pelemahan nilai tukarnya memberikan persepsi dukungan terhadap pemulihan ekonomi Uni Eropa. Di sisi lain, naiknya industrial production Spanyol, Inggris, hingga Perancis cukup menambah sentimen positif.

“Laju bursa saham AS cenderung melanjutkan pergerakan positifnya didukung berita-berita positif dari para emiten. Di sisi lain, ekspektasi akan kenaikan kinerja di kuartal I 2015 turut menambah sentimen positif,” jelasnya. (gir)