Kepala BKPM Franky Sibarani mengatakan potensi investasi hijau ini akan tumbuh rata-rata 20 persen setiap tahunnya selama lima tahun ke depan. Menurutnya investasi dan perlembangan industri yang ramah lingkungan sudah menjadi trend global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa CEO perusahaan energi global dipastikan datang dan menjadi pembicara dalam acara ini. Delapan sektor potensial untuk potensi hijau antara lain pertanian, kehutanan, perikanan, pengusahaan tenaga panas bumi, industri pengolahan (biomassa, biofuel), pengadaan listrik dari sumber energi terbarukan, pengolahan sampah dan daur ulang, dan pariwisata alam (ecotourism).
Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan, pemerintah tengah menyiapkan paket insentif berupa keringanan pajak (tax allowance) maupun tax holiday bagi para investor yang mau menaruh modalnya dalam proyek energi sumber daya terbarukan.
“Secara teknis akan kami sampaikan ke Kementerian Keuangan yang berhak menilai kualifikasi penerima insentifnya,” kata Sudirman.
Sudirman mengatakan, investasi hijau di bidang energi terbarukan menjadi prioritas pemerintah dalam beberapa tahun ke depan. Ia mengatakan pada tahun 2025 nanti, komposisi energi terbarukan ditargetkan mengisi 25 persen dari bauran energi yang ada.
"Selama ini kita terlalu bergantung pada energi fosil yang tiap waktu semakin tipis cadangannya," katanya. Sudirman menjelaskan Indonesia saat ini memiliki potensi sumber daya energi terbarukan yang cukup besar.
Data Kementerian ESDM menyebutkan potensi energi hidro (air) yang teridentifikasi ada sebesar 75 gigawatt, potensi energi matahari sebesar 112 gigawatt, biofuel mencapai 32 gigawatt, angin 0,95 gigawatt, biomassa 32 gigawatt, panas bumi 28,8 gigawatt, serta laut 60 gigawatt.
Tapi untuk mengembangkan program tersebut butuh anggaran yang besar, yaitu 10 kali lipat dari APBN-P 2015 yang hanya mengalokasikan Rp 1,03 triliun. "Makanya kami akan ajukan tahun depan ke DPR. Saya optimis DPR akan mendukung pemerintah," katanya. (ded/ded)