Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) menunjukkan pertumbuhan industri perbankan mencapai posisi terendah sejak awal 2010 setelah krisis ekonomi global. Sementara kredit modal kerja saat ini tumbuh di bawah 10 persen, sedangkan kredit investasi tumbuh 13,5 persen secara tahunan dan kredit konsumsi 11,6 persen secara tahunan.
Berdasarkan pembagian sektoral, kredit perikanan tumbuh lebih dari 20 persen secara tahunan, konstruksi 28 persen, sedangkan kredit rumah tangga masih tetap 12,5 persen secara tahunan. Seluruh area di Indonesia membukukan pertumbuhan yang lebih rendah dari bulan sebelumnya kecuali di Sulawesi dan bagian lain (kawasan Timur Indonesia/KTI).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kami meyakini hal tersebut disebabkan penurunan suku bunga di antara bank besar sementara bank kecil masih menawarkan suku bunga yang lebih tinggi,” jelasnya dalam riset, Selasa (19/5).
“Kami juga menggaris bawahi bahwa penghitungan dan kalkulasi margin bunga bersih (net interest margin/NIM) kurang tepat, karena memasukkan faktor aset laba off-balanced sejak November 2013. Perbankan juga memasukkan lagi metode yang sama pada Maret 2015 ketika rerata laba aset turun 22 persen secara bulanan,” jelasnya.
Sebagai hasilnya, lanjut dia, rerata NIM industri kembali ke 5,3 persen pada Maret 2015 dari 4,1 persen pada Februari 2015. Di antara bank, NIM bank BUMN 5,9 persen, 4,9 persen di bank komersial, dan BPD sebesar 7 persen, sedangkan level di bank patungan dan bank asing masing-masing sebesar 3,3 persen dan 3,7 persen. Adapun pinjaman tidak lancar industri turun menjadi 2,4 persen pada Maret.
“Kami masih memprediksi NPL akan naik lagi dan kemungkinan akan mencapai puncaknya pada kuartal II 2015. Karena kami mengantisipasi pertumbuhan ekonomi yang lebih besar pada kuartal III, maka kami memprediksi pertumbuhan kredit akan mulai naik dan kualitas asetnya juga naik yang akan memberikan tekanan lebih kecil kepada perbankan untuk menyisihkan beban provisi,” ungkap Tjandra. (gir)