Bentuk Holding Migas, Pemerintah akan Belajar dari Malaysia

Diemas Kresna Duta, CNN Indonesia | Sabtu, 06/06/2015 15:45 WIB
Bentuk Holding Migas, Pemerintah akan Belajar dari Malaysia Kantor Pertamina di Malaysia. (CNN Indonesia/Antara Photo/Fanny Octavianus)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah dikabarkan akan meniru skema bisnis Petronas Cagliari di dalam penunjukan PT Pertamina (Persero) sebagai perusahaan induk (holding) minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia. Pasalnya, konsep holding perusahaan migas yang diberlakukan pemerintah Malaysia kepada Petronas dinilai mampu mendongkrak kinerja perseroan dalam waktu yang cepat.

"Kami berharap (konsep ini) mendapat respon yang positif dari komisi VII. Harapan Kami ketika (Pertamina) menjadi holding migas, fungsi integrasi yang selama ini terjadi bisa dolakukan dengan baik dan kami menyatakan bisa mempercepat proyek-proyek yang dikerjakan," ujar Vice President Coorporate Communication PT Pertamina, Wianda Pusponegoro di Jakarta, Jumat (5/6).

Sebagaimana diketahui, dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VII DPR beberapa waktu lalu Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto menyatakan bahwa saat ini pihaknya sedang mematangkan konsep holding migas sesuai dengan arahan pemerintah. Dalam opsinya, mantan bos PT Semen Indonesia Tbk itu sempat mengeluarkan wacana tentang penggabungan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) ke dalam struktur holding yang dipimpin oleh Pertamina.


Wianda mengaku, wacana pembentukan holding migas sendiri berangkat dari diskusi antara Pertamina bersama pemerintah dan DPR dalam rangka mengoptimalkan bisnis migas di Indonesia. "Tadi kami sampaikan (bahwa Pertamina) telah melakukan bisnis hulu sampai hilir, melakukan stabilitator harga BBM hingga penjualan gas seperti yang kami lakukan selama ini. Tapi intinya ini yang kita diskusikan di DPR," tambah mantan wartawati cantik tersebut.

Di kesempatan berbeda, politikus Partai Nasional Demokrat, Kurtubi menyatakan dukungannya terhadap konsep holding migas yang akan dipercayakan ke Pertamina. Kurtubi mengatakan, pembentukan konsep holding migas diyakini akan memperbaiki tata kelola migas Indonesia kedepan.

"Alasan saya, saat ini infrastruktur gas kita amat sangat minim (contohnya) untuk rumah tangga. Jadi saat ini rumah tangga kita bergantung pada elpiji sekarang. Ini harus dihentikan karena elpiji kita itu harus diimpor," tuturnya.

Berangkat dari hal itu, Kurtubi pun sangat mendukung program jaringan gas kota yang saat ini sedang di dorong pemerintah. "Tapi nggak ditangani PGN karena mereka sudah diswastakan 43 persen. Solusinya, PGN dan Pertamina harus holding," kata pria yang beberapa waktu sempat meninjau langsung Petronas di Malaysia. (dim/ded)