Ekspor Tumbuh 1.800 Persen, Swiss Idola Baru Mitra Dagang RI

Agust Supriadi, CNN Indonesia | Rabu, 17/06/2015 06:23 WIB
Ekspor nonmigas Indonesia ke Swiss tumbuh lebih dari 1.800 persen selama Januari-Mei 2015. Uang kertas franc swiss. ( REUTERS/Kacper Pempel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perdagangan menilai perlambatan ekonomi telah memukul permintaan komoditas ekspor dari sejumlah negara mitra dagang Indonesia selama lima bulan pertama 2015. Kendati demikian, harapan baru muncul dari sejumlah pasar baru menyusul melonjaknya ekspor nonmigas ke Swiss, Tanzania, Algeria, India, Taiwan, Malaysia, dan Arab Saudi.

"Ekspor nonmigas ke Swiss tumbuh signifikan lebih dari 1.800 persen (selama Januari-Mei 2015)," ujar Menteri Perdagangan Rahmat Gobel di kantornya, Selasa (16/6).

Kementerian Perdagangan juga merinci data pertumbuhan ekspor ke enam negara lainnya, yakni ke Tanzania naik 154,8 persen, Algeria 53 persen, Arab Saudi 21,1 persen, India 11,9 persen, Taiwan 5,1 persen, dan Malaysia naik 2 persen.


Berdasarkan jenis komoditasnya, Rahmat mengatakan bijih, kerak, dan abu logam; perhiasan; serta besi dan baja menjadi barang ekspor yang paling besar di kirim ke India. Sementara ke Malaysia, minyak sawit (CPO), tembaga, ikan dan udang menjadi komoditas ekspor yang paling banyak diminta publik Negeri Jiran.

Munculnya sejumlah pasar alternatif itu menjadi angin segar bagi Indonesia, mengingat ekspor ke sejumlah mitra dagang utama mengalami koreksi tajam belakangan ini. Antara lain ekspor ke Jepang turun 20,8 persen, ke Tiongkok minus 20,9 persen, ke Amerika Serikat negatif 2,8 persen, dan Singapura anjlok 21,2 persen.

"Kita harus melakukan perluasan pasar. Dalam lima tahun harus ada balancing, jangan hanya mengandalkan negara itu-itu saja," tuturnya.

Berkah Smelter dan Ikan

Partogi Pangaribuan, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, meyakini meningkatnya ekspor bijih, kerak, dan abu logam sebagai keberhasilan pemerintah mewajibkan kontraktor tambang membangun smelter untuk mendapatkan izin ekspor mineral mentah. Menurutnya, komoditas ekspor tersebut merupakan sisa-sisa dari hasil eksploitasi dan pengolahan minera.

"Dengan demikian berarti smelter mulai berproduksi dan kerak serta abunya semakin banyak yang bisa diekspor," tuturnya.

Terkait surplus dagang dengan Malaysia, Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya menyoroti peningkatan ekspor ikan Indonesia ke negara tetangga serumpun itu. Neraca perdagangan Indonesia ke Malaysia tercatat surplus US$ 154 juta yang merupakan akumulasi dari selisih lebih ekspor dan impor Januari-Mei 2015.

"Malaysia banyak impor ikan. Saya yakin ini karena pembenahan di sektor kelautan untuk memberantas illegal fishing sehingga nelayan-nelayan di kawasan Asean yang biasanya mencuri di Indonesia kesulitan. Tapi karena ikan dikonsumsi setiap hari, maka terpaksa mereka impor dari Indonesia,"tutur Kepala BPS Suryamin, Senin (15/6). (ags/gen)