Menteri Gobel Pantau Proses Bongkar Muat Tanjung Perak

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Minggu, 21/06/2015 10:47 WIB
Menteri Gobel Pantau Proses Bongkar Muat Tanjung Perak Menteri Perdagangan Rachmat Gobel saat membuka pameran buah-buahan di Mal @Alam Sutra, Jumat (12/6). (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengunjungi pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya guna memantau dan memastikan kelancaran proses bongkar muat. Sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat kecewa dengan buruknya waktu tunggu bongkar muat (dwelling time) di pelabuhan Indonesia.

Dalam kunjungannya tersebut, Rachmat Gobel menyatakan pihaknya ingin memastikan bahwa perizinan yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah berjalan sesuai dengan indikator yang diharapkan.

“Bongkar-muat bahan bahan pokok di pelabuhan harus bisa berjalan lancar dan sesuai dengan jadwal, karena hal tersebut akan berpengaruh pada distribusi pengangkutan bahan pokok ke daerah-daerah melalui laut,” kata Rachmat Gobel dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (21/6).


Rachmat Gobel juga menegaskan pihaknya terus melakukan koordinasi dengan instansi terkait antara pusat dan daerah. “Hal ini untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi agar lalu lintas barang berjalan lancar dan memastikan tidak terjadi lonjakan harga melebihi batas kewajaran,” jelasnya.

Lebih lanjut, dalam kunjungannya tersebut, Rachmat Gobel menyatakan melakukan pengawasan dan pemantauan implementasi proses pengurusan hingga realisasi serta besaran waktu bongkar-muat angkut barang dan prioritasnya.

Untuk diketahui, ia melakukan kunjungan ke Surabaya juga guna memastikan ketersediaan stok bahan pokok dalam memenuhi kebutuhan masyarakat selama bulan puasa dan Lebaran. Ia dan jajarannya memonitor Pasar Wonokromo dan Pasar Bendul Merisi di Surabaya.

Di pasar Wonokromo, Mendag memonitor perkembangan stok dan kelancaran arus logistik kebutuhan pokok. Begitu pula ketika berkunjung ke Pasar Induk Beras Bendul Merisi Surabaya.

“Karena itu, perlu untuk memastikan kelancaran suplai bahan pokok masuk ke pasar serta memastikan harmonisasi barang dan kebutuhan untuk efisiensi harga,” kata Rachmat.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo sempat melontarkan kekesalannya terhadap lama dwelling time di pelabuhan Tanah Air dalam kunjungannya ke Kantor Pelayanan Terpadu Terminal Penumpang Nusantara Pura Pelabuhan Tanjung Priok, Rabu (17/6) lalu. Menurutnya, rata-rata dwelling time selama 5,5 hari di Indonesia masih jauh lebih lama dibandingkan negara lain.

Tak hanya kesal, Jokowi bahkan sempat mengancam akan mencopot menteri, direksi badan usaha milik negara (BUMN) pelabuhan, hingga operator di lapangan yang dianggap tak mampu mempersingkat dwelling time sesuai target yang ditetapkan. (gir)