Kendati wacana tersebut sudah dipikirkan, namun pria yang akrab disapa Vidjong ini mengatakan, pembangunan pabrik di Thailand bukanlah strategi utama perusahaan. Ia menegaskan, Kalbe Farma sebisa mungkin akan tetap menggunakan fasilitas di Indonesia untuk menghasilkan produk-produk bagi pangsa ekspor maupun domestik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk meningkatkan ekspor, Vidjong mengatakan BUMN obat ini juga akan menambah varian produk yang akan dipasarkan di mancanegara. Menurutnya, perseroan akan terus melakukan diversifikasi produk unggulan yang berbeda-beda untuk setiap negara di Asia Tenggara.
Lebih lanjut, Vidjong berharap bisa menambah ekspor produk jenis nutrisi ke pasar Asia Tenggara, khususnya Malaysia dan Singapura pada tahun ini. Kendati memperluas pasar di negara-negara tersebut, Vidjong mengatakan bahwa Filipina, Myanmar, dan Vietnam akan tetap menjadi pasar ekspor utama perusahaan di tahun 2015.
"Rencananya pada tahun ini kami ingin membawa Extra Joss ke Malaysia. Selain itu kita juga ingin membawa Hydro Coco di Singapura dan Fitbar ke pasar Filipina," tuturnya.
Dengan adanya hal tersebut, ia berharap perusahaan dapat meningkatkan porsi ekspor dari angka 5 persen dari total penjualan pada tahun lalu ke angka 6 persen pada tahun ini. Dengan melihat target pertumbuhan penjualan perusahaan sebesar 7 hingga 9 persen pada tahun ini, maka perusahaan berharap bisa melakukan ekspor senilai Rp 930,36 miliar hingga Rp 946,12 miliar.
"Memang tujuan jangka panjang kami adalah meningkatkan ekspor, bahkan kami menargetkan proporsi ekspor bisa sebesar 10 persen dari total penjualan dalam lima tahun ke depan. Dengan naiknya kontribusi ekspor, semoga juga bisa membantu pengelolaan depresiasi rupiah," pungkas Vidjong.
Melihat laporan keuangan perusahaan pada tahun lalu, nilai ekspor produk Kalbe Farma mencapai Rp 796,91 miliar, dimana kontribusi ekspor terbesar adalah produk kesehatan (consumer health) sebesar Rp 392,46 miliar yang disusul dengan ekspor obat resep sebesar Rp 299,47 miliar. Dengan kata lain, ekspor produk kesehatan mengambil proporsi 49,2 persen dari keseluruhan ekspor Kalbe Farma.
Lebih lanjut, ekspor Kalbe Farma sendiri memiliki proporsi 11,5 persen dari total ekspor sektor farmasi secara nasional yang tercatat sebesar US$ 532 juta atau sebesar Rp 6,91 triliun pada tahun 2014. Selain itu, angka ekspor Kalbe Farma pada tahun lalu juga terbilang meningkat 21,4 persen dari angka ekspor tahun sebelumnya yang mencapai Rp 656,35 miliar.
Di samping itu, total penjualan Kalbe Farma pada tahun 2014 meningkat sebesar 6,79 persen dari angka Rp 16,00 triliun di tahun 2013 ke angka Rp 17,39 triliun. Dengan target pertumbuhan penjualan sebesar 7 hingga 9 persen, maka perusahaan berharap bisa membukukan total penjualan sebanyak Rp 18,61 triliun hingga Rp 18,96 triliun di tahun ini. (ags)