"Karena kebijakan pemerintahan Jokowi telah mencabut subsidi BBM dan menyerahkannya pada mekanisme pasar, maka pemerintah wajib mengevaluasi kembali harga BBM dari harga yang ditetapkan saat ini. Bila perlu saat ini juga pemerintah harus menurunkan kembali harga BBM sesuai harga keekonomian sekarang," ujar Hafisz saat dihubungi CNN Indonesia, Kamis (23/7).
Hafisz mengungkapkan, desakan untuk menurunkan harga jual BBM sendiri dimaksudkan guna merangsang kembali daya beli masyarakat yang sempat melemah lantaran tingginya inflasi dalam beberapa waktu terakhir. Dengan begitu, adanya penurunan harga jual BBM diyakini mampu membangkitkan perekonomian nasional yang sedang lesu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagaimana diketahui, kemarin harga minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk penyerahan Agustus anjlok 1,63 dolar AS dan ditutup pada level US$ 51,41 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, harga minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Agustus bertengger di posisi US$ 56,86 per barel atau turun US$ 1,65.
"Bahkan banyak kalangan memprediksi harga minyak akan terus turun ke bawah US$ 50 per barel seperi posisi saat ini. Ini karena minyak Iran akan kembali masuk pasar global," cetusnya.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said menyatakan pemerintah tak akan tergesa-gesa menurunkan harga BBM tertentu dan penugasan meskipun tren pelemahan harga minyak dunia berlanjut.
"Tetap saja posisi kita harus melihat perkembangan dengan cermat, dan jangan lupa selama beberapa waktu lalu Pertamina menanggung kerugian karena kita punya kebijakan ingin menstabilkan harga," ujar Sudirman usai halal bihalal di gedung Kementerian ESDM, Rabu (22/7). (gir/gir)