"Karena dengan pelemahan rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat, maka lebih menguntungkan bagi kita untuk mengekspor produk. Karena kan harga kita jadi relatif lebih murah dibanding negara lain yang menyebabkan daya saing kita juga meningkat," jelas Ketua API, Ade Sudradjat di Jakarta, Selasa (28/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, penambahan porsi ekspor pada tahun ini akan ditujukan ke negara-negara tujuan ekspor baru di luar Uni Eropa dan Amerika Serikat. Pasalnya, destinasi ekspor tekstil alternatif itu masih memberlakukan bea masuk sebesar 30 persen terhadap output tekstil dalam negeri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan, tiga negara tujuan ekspor tekstil terbesar pada tahun lalu adalah Amerika Serikat (32,3 persen dari ekspor), Jepang (9,3 persen), dan Turki (4,9 persen).
"Tapi bukan berarti dengan menambah porsi ekspor, sepenuhnya produksi dalam negeri nanti 100 persen untuk ekspor. Keadaan ini hanya memanfaatkan momentum pelemahan rupiah saja, terlebih sekarang terjadi pelemahan daya beli di pasar dalam negeri," tuturnya.
Sebagai informasi, nilai ekspor tekstil dan produk turunannya pada tahun lalu mencapai US$ 12,74 juta atau 7,2 persen dari total ekspor non migas nasional yang mencapai US$ 176,29 juta. Sebagain besar dari ekspor TPT atau sekitar 70 persennya merupakan produk garmen. (ags/ags)