Direktur Agrobisnis dan Usaha Syariah Bank Jatim Tony Sudjiaryanto mengatakan bahwa masalah permodalan selanjutnya akan ditentukan setelah spin off resmi diluncurkan pada kuartal I 2017 mendatang. Alih-alih mengumpulkan tambahan modal, perusahaan akan fokus mengurusi perizinan teknis spin off selama setahun ke depan.
"Untuk tambahan modal kita sudah ada Rp 500 miliar, namun tambahan modal dari channel lain belum dibahas. Yang penting bagi kami, spin off ini bisa tepat waktu di 2017, jadi kami akan fokus mengurusi perizinan teknis seperti izin ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau Standar Operasional Prosedur (SOP) yang akan diberlakukan," ujar Tony di Jakarta, Rabu (29/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, dalam aturan tersebut dijelaskan bahwa perusahaan perlu membutuhkan modal tambahan Rp 500 miliar lagi dalam kurun waktu 10 tahun setelah Badan Usaha Syariah (BUS) dibentuk. Tony mengatakan, pihaknya tak terburu-buru dalam mendapatkan dana tambahan tersebut karena yakin akan prospek unit usaha syariah ini.
Sebagai gambaran baiknya prospek tersebut, Tony mengatakan hingga pertengahan tahun ini pembiayaan dari UUS perusahaan sudah mencapai Rp 600 miliar, atau sudah mencapai 75 persen dari target perusahaan sebesar Rp 800 miliar tahun ini. Pembiayaan tersebut, lanjutnya, banyak disalurkan kepada unit-unit UMKM di Jawa Timur.
"Bahkan nantinya pelaksanaan penyaluran pembiayaan lewat BUS ini akan dibantu oleh pesantren-pesantren, jadi kami harap pelayanan BUS ini bisa menjangkau lebih banyak kalangan," tambahnya.
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, UUS yang masih tergabung di unit perbankan konvensional harus dipisahkan dan dibuat BUS tersendiri. Di samping itu, syarat pemisahan UUS ini bisa dilakukan jika induk usaha setidaknya berada di golongan Bank Kategori Unit Kegiatan Usaha (BUKU) II, dimana modal inti perusahaan harus berada di kisaran Rp 1 triliun hingga Rp 5 triliun.
Sebagai informasi, modal Bank Jatim pada semester I 2015 tercatat di angka Rp 5,93 triliun. Angka ini meningkat 5,07 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dimana perusahaan memiliki modal sebanyak Rp 5,65 triliun. (gen)