Jakarta, CNN Indonesia -- Pelaksanaan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirebon Unit II belum juga dimulai sampai saat ini. PT Indika Energy Tbk selaku kontraktor proyek pembangkit berkapasitas 2 ribu Mega Watt (MW) ini masih harus menunggu kesediaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk meresmikan prosesi peletakan batu pertama (
groundbreaking).
"Kalau tidak bulan ini,
groundbreaking akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Sekarang tinggal mencari jadwal Presiden (untuk meresmikan) sambil menunggu penyelesaian PPA (
power purchase agreement) oleh PLN," ujar Agung Wicaksono, Penanggungjawab Unit Pelaksana Program Pembangunan Ketenagalistrikan Nasional (UKP3KN) di Jakarta, Rabu (2/9).
Sebagai informasi, PLTU Cirebon Unit II merupakan proyek milik PT Indika Energy Tbk, yang dananya berasal dari konsorsium investor Jepang, Korea dan beberapa bank multinasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui anak usahanya PT Cirebon Energi Prasarana (CEPR), Indika berencana menambah kapasitas PLTU Cirebon sebesar 2x1.000 MW, dari ketersedian pembangkit saat ini yang baru 600 MW.
Pembangkit baru ini rencananya akan berdiri atas tanah milik Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH) di desa Kanci, Kecamatan Astanajapura, Cirebon.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, Indika menyiapkan dana sebesar US$ 1,5 miliar atau berkisar Rp 20 triliun.
"Sekarang lahan sudah bisa dipakai, tinggal beresin perjanjian antara IPP (
Independent Power Producer) dan KLH. Kalau beres, sudah bisa PPA dan GB," jelas Agung.
Pada kesempatan berbeda, PT PLN (Persero) selaku pembeli tenaga listrik PLTU Cirebon mengaku tengah menyelesaikan proses PPA yang ditargetkan selesai bulan ini. Akan tetapi, Adi Supriono Sekretaris Perusahaan PLN masih belum mau mengungkap besaran harga pembelian daya listrik tersebut.
"Kalau PPA masih dihitung dan masih disiapkan teman-teman di PLN. Kalau untuk penyelesaian proyek targetnya 4 tahun lah dari
groundbreaking sampai listriknya ngalir atau di 2019," tutur Adi.
(ags/gen)