Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu, Askolani mengatakan kalau realisasi PNBP maksimal hanya bisa mencapai 95 persen hingga akhir tahun. Ia beralasan, turunnya harga minyak dunia dan rendahnya produktivitas batu bara menjadi alasan utama.
"Jika beberapa bulan yang lalu kita optimistis, sekarang kita hanya bisa berharap dan memantau terus pergerakan harga minyak," kata Askolani di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Kamis (8/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pilihan Redaksi |
Selain karena sektor migas yang lesu, penerimaan batu bara juga tak bisa diharapkan seiring harga batu bara yang ikut melemah. Tercatat, harga batu bara acuan (HBA) periode September 2015 berada di level US$58,21 per ton, padahal HBA di awal tahun mencapai US$63,84.
"Akibatnya kita tidak bisa berharap banyak dari penerimaan royalti Izin Usaha Pertambangan (IUP). PNBP pertambangan mineral dan batu bara (minerba) kita saat ini hanya sebesar Rp16,1 triliun padahal target akhir tahun kita sebesar Rp31,7 triliun," ujarnya.
Kendati pesimistis akan target minerba, Askolasi menjelaskan kalau setidaknya pendapatan dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tetap bisa mencapai target melihat realisasinya yang sebesar Rp35,1 triliun, atau 94,9 persen dari target yang mencapai Rp37 triliun.
"Kami lihat banyak BUMN yang sudah menunjukkan kinerja positif. Jadi kami yakin hingga akhir tahun realisasi dari dividen BUMN saja yang kami rasa paling meyakinkan. Sehingga untuk tahun depan, kita akan menerapkan payout ratio yang tetap," kata Askolani (ded/ded)