Selain sulit bersaing, keunikan karakter membuat pasar tradisional tak seharusnya bersaing dengan toko-toko moderen.
“Jangan pasar tradisional itu bersaing atau mencoba sekali-sekali bersaing dengan supermarket atau toko modern, konyol,” ujar Thomas kala melakukan kunjungan ke Pasar Tradisional Santa, Jakarta, Jumat (16/10) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kalau toko modern itu kan dia standar semua, dia punya standar. Justru dia sengaja membuat semuanya jadi sama. Sementara pasar tradisional itu bisa beda satu daerah dengan daerah yang lain dengan memperagakan ciri khas daerah,” ujarnya.
“Di Korea ataupun di Jepang itu kan tempat kaya gini (Pasar Santa) bisa sampai jam dua pagi, jam tiga pagi, jam empat pagi. Bahkan ramenya itu jam dua, jam tiga, jam empat pagi,” kata Thomas.
Senada dengan Thomas, pengusaha Dewi Motik Pramono juga menilai pasar tradisional harus memiliki ciri khas yang bisa dijual, jangan malah sibuk bersaing dengan toko modern.
“Contohnya, di sini (Pasar Santa) ada sate Padang. Saya belum pernah ke sini tapi namanya makanan sate Padang di sini sudah semua orang tahu. Jadi dikatakan bahwa ciri khas sate Padang yang ada di Pasar Santa itu sudah enak, cepat servicenya, dan harganya sangat terjangkau,” ujar Dewi. (ags)