Seperti dijelaskan oleh Deputi bidang Perniagaan dan Industri Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Edy Putra Irawady, nantinya di dalam kawasan logistik berikat hortikultura ini akan dibangun sebuah ruangan pendingin besar agar produk pertanian tidak cepat busuk.
Dengan adanya hal itu, diharapkan Indonesia bisa menjadi hub komoditas pangan yang diperuntukkan bagi pasar ekspor. Rencana ini sejalan dengan konsep kulkas raksasa yang dicetuskan Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong beberapa waktu lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Edy menambahkan bahwa pengelolaan kawasan logistik berikat ini sama seperti rencana kawasan logistik berikat lainnya, yaitu diserahkan langsung ke pihak swasta. Namun mengingat pemerintah baru membuka kesempatan tersebut, maka lokasi kawasannya belum ditentukan secara spesifik.
Potensi Ekspor
Alasan dipilihnya hortikultura sebagai komoditas logistik berikat berikutnya karena pemerintah melihat potensi ekspor dari situ. Selain hortikultura, rencananya pemerintah juga berencana untuk membuka kawasan logistik berikat bagi produk farmasi.
Sebelumnya, pemerintah juga berencana untuk membangun pusat logistik berikat bagi komoditas kapas di Cikarang, Jawa Barat. Edy mengatakan, komoditas kapas dipilih atas usulan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API).
Rencana pembangunan kawasan berikat logistik tersebut muncul setelah pemerintah mengumumkan akan merubah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 32 tahun 2009 tentang Tempat Penimbunan Berikat, di mana salah satu poin tersebut adalah semakin mendekatkan industri-industri dalam negeri dengan bahan baku asal impor dan juga mendorong penurunan biaya logistik. (gen)