“Mungkin ada saja pengaruh dari daya beli yang menurun, tetapi juga tetap ada pengaruh dari pengendalian pangan dan belum adanya tarif yang naik. Jadi jangan kemudian dianggap itu benar-benar hanya karena permintaan atau daya beli yang turun,”ujar Darmin di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (12/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini melaporkan terjadinya inflasi pada November 2015 sebesar 0,21 persen atau 4,89 persen dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu (year on year). Secara kumulatif, inflasi tahun kalender (Januari-November 2015) sebesar 2,37 persen, jauh di bawah asumsi 5 persen di APBNP 2015.
“Di tahun 2016 kita perkirakan dia akan turun kira-kira 5 persen, sekarang data yang terakhir tahun 2016 dia akan turun sampai 9,9 persen,” tutur Agus.
Kendati demikian, Agus menilai inflasi November sebesar 0,21 persen sesuai dengan prediksi BI dan masih ada di kisaran sasaran bank sentral 4 plus/minus 1 persen.
“Kondisi ini sejalan dengan prediksi kita bahwa nanti inflasi Indonesia akan di kisaran targetnya. Bahkan, lebih rendah dari target yang di canangkan 4 plus/minus 1 persen. Jadi (inflasi akhir tahun) mungkin bisa di bawah 3 persen,” ujar Agus. (ags)