Apindo Desak Bank Sentral Turunkan BI Rate
Safyra Primadhyta | CNN Indonesia
Rabu, 02 Des 2015 07:08 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mendesak Bank Indonesia (BI) segera menurunkan suku bunga acuan (BI-rate) jika pada bulan ini Bank Sentral Amerika atau The Federal Reserve kembali menunda kenaikan suku bunga acuannya.
“Kalau sentimen positif untuk penguatan rupiah terjadi, rasanya BI harus cepat mengambil momentum itu untuk menurunkan BI-ratenya,” kata Ketua Apindo Hariyadi Sukamdani di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (1/12).
Hariyadi menyayangkan keputusan BI menahan BI-rate di level 7,5 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pertengahan Oktober lalu. Menurutnya, bulan lalu sebenarnya bisa menjadi momentum BI untk menurunkan BI-rate.
“Oktober ada peluang itu (menurunkan BI-rate) tapi mungkin karena Pak Agus (Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo) sangat berhati-hati jadi dia mengambil posisi (menahan BI-Rate),” kata Haryadi.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menilai BI memiliki ruang untuk menurunkan BI-rate jika dilihat dari rendahnya tingkat inflasi inti (core inflation) November 2015. Namun, BI tetap harus memperhatikan faktor lain, dalam hal ini nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS.
“Inflasi yang rendah saya kira membuka ruang, bagaimana ruang itu dipergunakan tentu ada perhitungan sendiri. Kalau katakanlah pengusaha ingin diturunkan, BI menurunkan BI rate-nya sehingga bisa mendorong pertumbuhan tapi BI juga pasti kalkulasi dampaknya terhadap nilai tukar," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Sasmito Hadi Wibowo di kantornya.
BPS mencatat inflasi inti pada November sebesar 4,77 persen (year on year) atau terendah sepanjang 2015. Angka itu turun dibandingkan inflasi komponen inti Oktober yang sebesar 5,02 persen. (ags)
“Kalau sentimen positif untuk penguatan rupiah terjadi, rasanya BI harus cepat mengambil momentum itu untuk menurunkan BI-ratenya,” kata Ketua Apindo Hariyadi Sukamdani di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (1/12).
Hariyadi menyayangkan keputusan BI menahan BI-rate di level 7,5 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pertengahan Oktober lalu. Menurutnya, bulan lalu sebenarnya bisa menjadi momentum BI untk menurunkan BI-rate.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menilai BI memiliki ruang untuk menurunkan BI-rate jika dilihat dari rendahnya tingkat inflasi inti (core inflation) November 2015. Namun, BI tetap harus memperhatikan faktor lain, dalam hal ini nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS.
BPS mencatat inflasi inti pada November sebesar 4,77 persen (year on year) atau terendah sepanjang 2015. Angka itu turun dibandingkan inflasi komponen inti Oktober yang sebesar 5,02 persen. (ags)