Agus Martowardojo, Gubernur BI mengatakan wacana ini perlu diwaspadai lantaran jika nantinya pengaruh Renminbi dinilai terlalu kuat, maka bank sentral China berpotensi akan kembali melakukan devaluasi terhadap mata uanganya.
Ini mengingat dengan masuknya Renminbi ke dalam SDR akan mengakibatkan pada bertambahnya satu mata uang yang diakui internasional sebagai kurs referensi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus mengatakan dengan masuknya renminbi ke dalam SDR juga dapat membuat bank sentral Negeri Tirai Bambu tersebut melakukan kebijakan yang bisa mempengaruhi pergerakan pasar valuta asing dunia. Pasalnya, bank sentral China berpeluang melakukan devaluasi menyusul terbebaninya neraca perdagangan negar tersebut.
Sebelumnya, sempat terjadi babak baru perang mata uang yang diciptakan oleh People’s Bank of China setelah memutuskan untuk memangkas nilai renminbi sebesar 1,9 persen.
Bank sentral China tersebut menyatakan langkah itu adalah depresiasi renminbi yang bakal dilakukan satu kali saja, sebagai upaya reformasi pasar bebas.
Alih-alih upaya reformasi, langkah tersebut lebih dipandang semata-mata untuk mendongkrak daya saing produk ekspor China. Ini lantaran ekspor China anjlok lebih dari 8 persen di bulan Juli.
Tak cuma itu, terdapat pandangan lain kenapa China memangkas nilai renminbi. Salah satunya adalah agar mata uang tersebut bisa bersaing dan masuk ke dalam jajaran SDR pilihan Dana Moneter Internasional (IMF).
"Kebetulan, untuk Indonesia, kan hubungan dagang kita dan China cukup besar. Kita ada impor US$ 40 miliar, sedangkan ekspor cuma US$ 14 miliar, jadi ada defisit," jelas Agus.
Seperti diketahui, saat ini keranjang SDR diisi oleh Euro, Yen, Dolar Amerika Serikat (AS), dan Poundsterling. Pun dipilhnya empat mata uang asing tadi segai SDR karena nilai mereka memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi pasar dunia.
Menyusul langkah bank sentral China yang akan memasukan Renminbi ke dalam SDR pada 12 Agustus 2015 tersebut, bursa saham dan pasar keuangan dunia sempat mengalami kejutan kontraksi. Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 3,01 persen saat itu, sementara Rupiah sempat menyentuh level Rp 13.900 per dolar AS. (dim)