Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang 2015, nilai ekspor migas dan non migas mencapai US$150,25 miliar, sementara nilai ekspor komoditas yang sama di 2014 sebesar US$176,29 miliar sehingga terjadi penurunan ekspor sebesar 14,77 persen.
Namun penurunan ekspor tersebut bersamaan dengan pembelian barang dari luar negeri alias impor yang anjlok 19,88 persen. BPS menyebut sepanjang 2015, nilai impor migas dan non migas Indonesia sebesar US$142,74 miliar dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$178,18 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Kepala BPS Suryamin menjelaskan surplus nilai perdagangan tersebut justru terjadi akibat sejumlah harga komoditas ekspor dan impor yang mengalami penurunan harga sepanjang 2015. Bukan disebabkan oleh penurunan impor yang lebih dalam dibandingkan penurunan ekspor.
Sementara 13 komoditas lainnya yang mengalami penurunan harga yakni kakao, minyak ikan, udang, daging sapi, tepung jagung, gandum, emas, tembaga, nikel, perak, besi, timah dan zinc.
Jika menurut provinsi asal barang, Suryamin menjelaskan, ekspor Indonesia terbesar pada 2015 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$25,69 miliar (17,1 persen), diikuti Kalimantan Timur US$18,34 miliar (12,2 persen), dan Jawa Timur US$16,57 miliar (11,03 persen).