Neraca Dagang RI Tahun Lalu Surplus Meski Nilai Ekspor Turun

Elisa Valenta Sari | CNN Indonesia
Jumat, 15 Jan 2016 13:51 WIB
Nilai ekspor merosot 14,77 persen sepanjang 2015 lalu, berbarengan dengan nilai impor yang lebih besar yaitu mencapai 19,88 persen. Nilai ekspor merosot 14,77 persen sepanjang 2015 lalu, berbarengan dengan nilai impor yang lebih besar yaitu mencapai 19,88 persen. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia mencatatkan surplus nilai perdagangan sepanjang tahun 2015 senilai US$7,52 miliar. Realisasi tersebut berbanding terbalik dengan defisit neraca dagang yang dialami pada 2014 sebesar US$1,88 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang 2015, nilai ekspor migas dan non migas mencapai US$150,25 miliar, sementara nilai ekspor komoditas yang sama di 2014 sebesar US$176,29 miliar sehingga terjadi penurunan ekspor sebesar 14,77 persen.

Namun penurunan ekspor tersebut bersamaan dengan pembelian barang dari luar negeri alias impor yang anjlok 19,88 persen. BPS menyebut sepanjang 2015, nilai impor migas dan non migas Indonesia sebesar US$142,74 miliar dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$178,18 miliar.

Sementara dari sisi volume perdagangan, sepanjang Januari-Desember tahun lalu Indonesia juga mengalami penurunan volume perdagangan dari 2014 yang sebesar 401,72 juta ton menjadi 360,74 juta ton.

Namun, Kepala BPS Suryamin menjelaskan surplus nilai perdagangan tersebut justru terjadi akibat sejumlah harga komoditas ekspor dan impor yang mengalami penurunan harga sepanjang 2015. Bukan disebabkan oleh penurunan impor yang lebih dalam dibandingkan penurunan ekspor.

"Karena kondisi perekonomian global sedang kurang baik, sehingga volume ekspor kita juga menurun terutama akibat ada peraturan langan ekspor mineral dan upaya membangun smelter di dalam negeri," ujar Suryamin di kantor pusat BPS, Jumat (15/3).

Suryamin menyebutkan sepanjang 2015 dari 22 komoditas yang menjadi objek pengamatan BPS, sembilan komoditas yang menjadi andalan ekspor Indonesia mengalami kenaikan harga. Yakni kopra, minyak sawit, minyak inti kelapa sawit (palm kernel oil), kayu, karet, aluminium, minyak kedelai, kacang kedelai, dan gula.

Sementara 13 komoditas lainnya yang mengalami penurunan harga yakni kakao, minyak ikan, udang, daging sapi, tepung jagung, gandum, emas, tembaga, nikel, perak, besi, timah dan zinc.

Jika menurut provinsi asal barang, Suryamin menjelaskan, ekspor Indonesia terbesar pada 2015 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$25,69 miliar (17,1 persen), diikuti Kalimantan Timur US$18,34 miliar (12,2 persen), dan Jawa Timur US$16,57 miliar (11,03 persen).
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

TERPOPULER