Turunnya harga LNG tersebut menurut Fabby seharusnya membuat manajemen PT PLN (Persero) mampu menurunkan biaya pokok produksi listrik sehingga harga jualnya ke masyarakat bisa diturunkan. Pasalnya saat ini komponen pembentukkan harga pokok produksi listrik masih didominasi oleh fluktuasi harga minyak.
"Tapi saya tidak tahu apakah ini badnews atau goodnews terhadap neraca keuangan dan pendapatan PLN. Hanya saja dengan potensi penurunan gas, masyarakat harusnya bisa memperoleh keringan melalui penurunan tarif listrik (adjustment tariff)," kata dia di kantor pusat PLN, Jakarta, Jumat (22/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini menyusul penonaktifan beberapa reaktor nuklir Jepang pasca bencana Tsunami yang sempat mengakibatkan kebocoran pada reaktor nuklir Fukushima.
"Kita lihat saja. Tapi yang pasti penurunan ini akan menjadi faktor yang positif," katanya.
Senada dengan Fabby, Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri menilai pelemahan harga komoditas energi yang berlangsung dalam beberapa waktu ke belakang akan menjadi katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Hanya saja kata dia, pemerintah harus cermat memanfaatkan momentum pelemahan harga komoditas guna mendukung ekonomi masyarakat di tengah ancaman menurunnya penerimaan negara.
Di samping ia juga meminta pemerintah transparan terkait penetapan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dilego masyarakat.
"Selain listrik, coba sekarang kita lihat. Ketika harga minyak turun kenapa pemerintah tidak juga menurunkan harga BBM? Kalau alasannya harga minyak yang sekarang itu dibeli tiga bulan yang lalu, ya buka saja semua komponen pembentuk harga. Berani tidak," tegas Faisal. (gen)