Direktur ADB untuk Indonesia Steven Tabor mengatakan dalam paparannya bahwa kondisi ekonomi global saat ini menantang. Perlambatan ekonomi China, depresiasi kurs dan anjloknya harga komoditas menjadi salah satu permasalahan.
“Setiap 1 persen pelemahan ekonomi di China, akan menurunkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar 0,2 persen,” ujarnya di Jakarta, Rabu (27/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut, menurutnya juga menjadi salah satu alasan ADB merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke level 5,1-5,3 persen. Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebelumnya diprediksi mencapai 5,4 persen.
“Selain itu reformasi anggaran untuk pendidikan yang berkualitas, reformasi untuk menjaga akuntabilitas pemerintah daerah,” ujarnya.
Menurutnya, pasar global bakal bertambah fuktuatif dan rentan. Ia menyatakan pertumbuhan diprediksi akan terlihat pada 2016 yang didukung meingkatnya tingkat konsumsi dan investasi seiring menurunnya inflasi.
“Namun perbaikan tersebut tetap akan menghadapi berbagai tantangan,” jelasnya.
Ia menilai perlu adanya kelanjutan dorongan reformasi dan tingkat kompetisi untuk mengakselerasi ekonomi dan menanggulangi penurunan populasi penduduk usia kerja.
“Hal itu akan mendorong produktifitas pekerja dan memperbaiki situasi ekonomi sehingga pemodal dan pekerja dapat mengalokasikan kemampuan terbaik mereka,” ujarnya. (gen)