BPS Jelaskan Gejolak Harga Cabai dan Beras Terhadap Inflasi

Elisa Valenta Sari, CNN Indonesia | Senin, 01/02/2016 14:29 WIB
BPS Jelaskan Gejolak Harga Cabai dan Beras Terhadap Inflasi Pedagang melayani pembeli di pasar PSPT Tebet, Jakarta, Senin, 8 Juni 2015. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga pangan yang sering bergejolak turut memiliki andil besar terhadap besarnya angka inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang Januari 2016, perubahan harga sejumlah komoditas pangan turut berkontribusi terhadap inflasi sebesar 0,51 persen.

Kepala BPS Suryamin menjelaskan fluktuasi harga pangan adalah salah satu akibat rantai perdagangan dalam negeri yang terlalu panjang dan kompleks. Dalam catatan harga perdagangan komoditas strategis tahun 2015 yang dilakukan oleh BPS, tercatat cabai merah merupakan komoditas pangan dengan rantai perdagangan terpanjang.

Untuk sampai di tangan konsumen, cabai merah harus melewati lima tingkatan mulai dari pedagang pengepul, distributor, agen, pedagang grosir, pengecer dan terakhir ke tangan konsumen. Akibat panjangnya rantai perdagangan, seringkali membuat harga di tingkat pengepul hingga konsumen akhir berbeda sangat jauh.


“Marjin terlalu besar ini yang membuat konsumen harus membayar mahal,” ujar Suryamin dalam konferensi pers di kantor pusat BPS, Senin (1/2).

Panjangnya rantai perdagangan cabai merah turut pula diperparah dengan keterbatasan pasokan di sejumlah daerah. Sepanjang Januari 2016, cabai merah mengalami kenaikan sebesar 7,8 persen dibandingkan bulan Desember 2015 di 45 kota Indeks Harga Konumen (IHK). Kenaikan paling parah terjadi di Kota Kupang sebesar 95 persen dan Watampone Sulawesi Selatan sebesar 86 persen.

“Sepanjang Januari cabai merah menyumbang inflasi 0,03 persen , ini termasuk sangat besar,” ujar Suryamin.

Untuk komoditas lainnya, beras tercatat sebagai komoditas dengan rantai perdagangan kedua setelah cabai merah. Rantai perdagangan beras terpanjang terjadi di wilayah Ibu Kota DKI Jakata.

Menurut Suryamin, hal ini disebabkan karena wilayah DKI Jakarta yang jauh dari daerah produsen beras, sehingga harus mendatangkan beras dari daerah sentral produksi beras di sekitarnya, seperti Karawang, Indramayu hingga Cirebon. Tingginya biaya angkut dan distribusi ditengarai turut membuat harga beras kerap kali melonjak tajam.

“Sepanjang Januari 2016 beras punya andil inflasi 0,77 persen terhadap inflasi,” katanya.

Suryamin menyatakan, informasi yang disajikan tersebut merupakan masalah yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah apabila ingin menekan laju inflasi sepanjang tahun 2016 sesuai target.

“Jadi BPS memberi masukan saja kepada pemerintah bahwa rantai perdagangan terlalu panjang, mudah-mudahan segera ada perubahan tata niaga komoditas strategis untuk menekan harga. Itu pasti akan berpengaruh kepada inflasi dan daya beli masyarakat,” katanya. (gir/gen)