Salah Kebijakan, Daya Beli Masyarakat Tergerus Harga Pangan

Gentur Putro Jati, CNN Indonesia | Selasa, 02/02/2016 09:06 WIB
Salah Kebijakan, Daya Beli Masyarakat Tergerus Harga Pangan Warga antre mendapatkan raskin saat Operasi Pasar Bulog yang digelar di Pasar Larangan, Sidoarjo, Jawa Timur. (ANTARA FOTO/Suryanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) mengawali 2016 dengan catatan minus akibat tingginya harga pangan yang dikonsumsi masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka inflasi Januari 2016 year on year (yoy) sebesar 4,14 persen, padahal pada Januari 2014 tercatat deflasi 0,24 persen.

Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri mencermati, harga bahan makanan menjadi pendorong signifikan inflasi Januari dengan kontribusi sebesar 90,2 persen. Daging ayam ras, telur ayam ras, beras, dan daging sapi merupakan empat bahan makanan yang harganya tidak berhasil dikendalikan akibat kebijakan pemerintah yang buruk terutama tata niaga yang tidak sehat.

Selain empat jenis bahan makanan tersebut, penyumbang inflasi lainnya dari kelompok bahan makanan adalah bawang merah, bawang putih, ikan segar, kentang, dan buah-buahan.


“Kondisi harga pangan Januari 2016 semakin buruk dibandingkan Desember 2015. Ketika itu sumbangan bahan makanan terhadap inflasi sebesar 67,7 persen. Penyumbang terbesar hampir sama dengan Januari 2016. Sementara di November 2015 baru 33,3 persen, jadi bisa dilihat lonjakan yang terjadi,” kata Faisal, Selasa (2/2).

Hal yang menarik bagi Faisal adalah, beras selalu muncul sebagai salah satu dalang penyebab inflasi akibat harganya yang terus tinggi. Padahal, harga beras diketahui sangat sensitif menggerus daya beli masyarakat miskin.

Faisal mencatat pengeluaran masyarakat miskin untuk beras mencapai 28,74 persen dari keseluruhan pengeluaran. Disusul dengan gula pasir sebesar 3,11 persen, telur ayam ras 3,09 persen, daging ayam ras 1,79 persen, dan bawang merah 1,71 persen.

“Keseluruhan pengeluaran penduduk miskin untuk jenis-jenis bahan makanan yang harganya cenderung naik dalam beberapa bulan terahir mencapai 38,4 persen. Syukur harga tahu dan tempe stabil, kalau naik juga akses penduduk miskin terhadap protein semakin jauh,” tegasnya.

Salah Kebijakan

Tingginya harga pangan yang terjadi sampai saat ini menurut Faisal merupakan imbas dari kakunya kebijakan yang dibuat Menteri Pertanian Amran Sulaiman dengan melarang impor bahan pangan, terutama beras dilakukan.

Padahal menurut Faisal, tahun lalu banyak pengamat yang mengingatkan potensi kemerosotan produksi beras di dalam negeri dan penurunan stok beras dunia. Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengingatkan bakal terjadi musim kemarau panjang dan ekstrem akibat El Nino.

“Sayangnya Menteri Pertanian keras kepala dengan sesumbar kita tidak perlu impor beras. Pihak yang mempertanyakan keyakinan Menteri dituduh sebagai kaki-tangan importir beras. Bukan cuma beras yang salah kelola, jagung juga tidak kalah parahnya. Daging sapi tidak kunjung terselesaikan. Muncul lagi daging ayam ras dan telur ayam ras,” kata Faisal.

Oleh karena itu, mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi (Migas) tersebut mengaku tidak heran ada polisi yang berhasil menangkap kapal yang menyelundupkan 30 ton beras dan 5 ton gula pasir di perairan Batam, Kepulauan Riau beberapa waktu lalu.

“Entah sudah berapa banyak beras, gula pasir, jagung, kedelai, dan bahan pangan lainnya yang sudah masuk ke Indonesia secara ilegal. Betapa menggiurkan laba yang diraup dari bisnis gelap itu. Pasalnya, harga pangan di Indonesia dua kali lipat jauh lebih mahal dari harga di pasar internasional,” tegasnya.

Ia mengingatkan, saat ini Indonesia dihadapi dilema karena kesulitan menemukan negara produsen beras yang bersedia menjual hasil sawahnya dengan harga rendah. Faisal menyebut Thailand praktis tidak lagi mengekspor beras karena sebelumnya menjual beras cukup banyak ke Filipina dan lebih mementingkan memperkuat cadangan nasionalnya untuk mengantisipasi kemungkinan stok beras dunia yang semakin menipis.

“Oleh karena itu, Indonesia mencari beras sampai ke Pakistan yang sangat mungkin lebih mahal. Sementara harga beras di pasar domestik diperkirakan bakal naik terus. Pasokan dalam negeri masih seret karena musim tanam bergeser akibat musim hujan terlambat,” katanya. (gen)