"Di Indonesia perbankan kita ada sekitar 120 bank, secara industri kondisinya itu likuid, tapi ada bank-bank yang status likuiditasnyanya lebih ketat dibandingkan dengan bank lain yang lebih longgar," ujar Agus di Jakarta, Jumat (8/4).
Menurut Agus, saat ini penempatan dana pihak ketiga (DPK) perbankan bertumbuh pelan dan hanya didominasi oleh DPK yang memiliki jangka waktu yang pendek. Mantan Menteri Keuangan itu mengatakan, saat ini otoritas keuangan tengah fokus memperdalam pasar keuangan khususnya pasar DPK yang mampu memperkuat permodalan perbankan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Guna meningkatkan likuiditas dalam jangka waktu pendek ini, Agus mengimbau agar perbankan bisa menerbitkan promissionary notes atau surat kesanggupan bayar bagi nasabah yang ingin mengajukan pinjaman.
Tak hanya itu, bos bank sentral itu mengaku terus mengembangkan pasar repurchase agreement (Repo) atau hak membeli kembali surat berharga antar bank dan mendorong perbankan yang memiliki kelebihan likuiditas untuk menepatkan dananya di bank yang kekurangan likuiditas.
Melalui instrumen tersebut, diharapkan pasar DPK menjadi tersedia lebih banyak dan instrumen keuangan bisa bertambah.
"Ke depan diharapkan DPK bisa lebih kuat dengan ketersediaan uang dana masuk di Indonesia," ujarnya. (gen)