Kredit Standard Chartered Bank Tertolong Ekspor Dagang

Elisa Valenta Sari, CNN Indonesia | Selasa, 26/04/2016 14:25 WIB
Kredit Standard Chartered Bank Tertolong Ekspor Dagang Ilustrasi Standard Chartered. (REUTERS/Bobby Yip).
Jakarta, CNN Indonesia -- Standard Chartered Bank Indonesia boleh bernafas lega. Kinerja perdagangan, khususnya sektor ekspor, selama kuartal pertama tahun ini ikut mendongkrak penyaluran kredit perseroan. Selama tiga bulan pertama ini, bank berstatus Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) tersebut membukukan pertumbuhan kredit sekitar 5-6 persen.

Irvan Noor, Head of Commercial Clients Standard Chartered Bank Indonesia optimistis, perseroan mampu mencapai target pertumbuhan kredit yang dipatok di kisaran 13-15 persen hingga akhir tahun nanti.


"Saya bilang, tiga bulan pertama ini trennya membaik. Ada peningkatan, meski belum di level yang kami inginkan. Ada pertumbuhan (kredit) 5-6 persen, rata-rata semua dari portofolio bisnis kami mulai tumbuh," ujarnya, Selasa (26/4).


Lebih lanjut ia menjelaskan, manajemen memprioritaskan layanan bagi perusahaan kelas menengah yang ingin melakukan ekspansi usaha. Target yang dibidik adalah perusahaan yang ingin melebarkan sayap bisnis mereka ke Asia, Afrika dan Timur Tengah.

"Pengalaman kami lebih dari 150 tahun di pasar Asia, Afrika dan Timur Tengah, sehingga kami memiliki akses ke negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi," imbuh Irvan.

Namun demikian, manajemen juga cukup selektif dalam memilih segmen usaha yang akan dibiayainya. Bank yang berkantor pusat di Inggris itu fokus pada penyaluran kredit usaha yang bergerak dalam industri makanan dan minuman, produk perikanan, tekstil, termasuk garmen.

Di Standard Chartered Bank Indonesia sendiri, portofolio kreditnya antara satu segmen dengan segmen lainnya cukup serimbang. Hal ini dilakukan untuk menjaga risiko kredit. Rata-rata segmen bisnis yang dibiayainya 8-10 persen per sektor.


Yang pasti, sambung Irvan, manajemen menjaga rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) untuk berada dibawah rata-rata NPL industri yang berkisar 2,73 persen.

Di samping itu, manajemen juga akan mengamini keinginan pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menerapkan suku bunga kredit single digit. "Pemangkasan bunga kredit memungkinkan bagi nasabah yang memiliki profil risiko kredit yang rendah," pungkasnya. (bir/gen)