Saudi Aramco dan Rosneft Calon Kuat Pemenang Kilang Tuban

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 04/05/2016 11:43 WIB
Saudi Aramco dan Rosneft Calon Kuat Pemenang Kilang Tuban Sebelumnya, terdapat enam perusahaan yang berminat mengembangkan kilang Grass Root Refinery (GRR) di Tuban, Jawa Timur. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan terdapat dua perusahaan yang menjadi calon kuat mitra PT Pertamina (Persero) dalam mengembangkan kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban, Jawa Timur. Kedua perusahaan tersebut adalah perusahaan minyak dan gas asal Arab Saudi, Saudi Aramco dan asal Rusia, Rosneft.

"Untuk Tuban memang Rosneft dan Aramco yang paling kuat," ujar Sudirman ditemui di Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Rabu (4/5).

Ia melanjutkan, keputusan pemenang lelang itu diharapkan bisa diambil dalam waktu dekat. Pemerintah bersama Pertamina, tambahnya, tak ingin realisasi pembangunan GRR Tuban menjadi lebih lama.


"Dalam satu minggu ke depan semoga hasilnya sudah keluar," ujarnya.

Selain kedua perusahaan tersebut, proyek kilang GRR Tuban ini sebelumnya juga diminati oleh Kuwait Petroleum International, China Petroleum and Chemical Corporation Ltd (Sinopec), konsorsium PTT Global Chemical Plc dan Thai Oil Ltd, dan Indian Oil. Enam proposal ini datang setelah Pertamina melakukan project expose ke sembilan perusahaan pada Desember lalu.

GRR Tuban sendiri diperkirakan memakan biaya US$ 12 miliar US$14 miliar yang diperkirakan bisa rampung pada tahun 2021 dengan kapasitas 200 MBPD. Selain GRR Tuban, Pertamina juga akan membangun GRR Bontan yang diperkirakan rampung tahun 2023.

Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto mengatakan perusahaannya sempat tergiur dengan tawaran Rosneft karena ada peluang Pertamina bisa masuk ke bisnis hulu di Rusia. Apalagi menurutnya, saat ini Rosneft merupakan produsen minyak mentah terbesar di dunia, sehingga keamanan suplai minyak mentah ke dalam negeri bisa lebih terjamin.

"Dalam pertemuan kemarin mereka tidak hanya menawarkan bekerjasama di kilang, tapi juga membuka kesempatan bagi kami untuk share upstream di Rusia. Itu nantinya akan memperbaiki kemampuan produksi upstream di sini dan akan berpengaruh dalam membangun energy security nasional ke depan," jelas Dwi ditemui di Raja Ampat, Papua Barat, pekan lalu. (gir)