Wakil Ketua Umum Kadin bidang Perdagangan, Benny Soetrisno mengatakan kebanyakan mitra dagang negara Islam masih menerapkan sistem konvensional dengan membayar secara kontan sesuai dengan standar syariah. Padahal, kebanyakan transaksi perdagangan dari Indonesia dilakukan melalui sistem perbankan dengan skema pembayaran yang berbeda.
"Seperti contohnya kan ada sistem Letter of Credit (L/C), sedangkan mereka masih menerapkan sistem konvensional. Masalah pembayaran ini yang kadang menyulitkan perdagangan dari Indonesia ke negara-negara Islam, dan itu pasti ada kaitannya dengan sistem syariah. Sehingga memang harus ada kesepahaman bersama mengenai hal ini," jelas Benny ditemui di Jakarta, Senin (16/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin kebijakan yang diperlukan dari Pemerintah adalah kesepakatan antar banking kedua mitra, posisinya bagaimana. Sekarang memang saatnya Indonesia memanfaatkan hubungan dengan negara-negara Islam karena potensinya masih bisa ditingkatkan," jelasnya.
Pertumbuhan itu terbilang lebih besar dibandingkan dengan mitra ekspor utama Indonesia, yaitu China dan Jepang, dengan penurunan pertumbuhan ekspor masing-masing sebesar 11 persen dan 8 persen di periode yang sama.
Melengkapi ucapan Benny, General Manager Trade Cooperation dan Promotion Program (TCPP) ITFC, Syed Habib Ahmed mengatakan setiap mitra dagang perlu saling terbuka soal mekanisme perdagangan di masing-masing negara. Pasalnya, banyak eksportir yang belum mendapatkan edukasi soal regulasi perdagangan di negara tujuannya karena minimnya informasi, termasuk sistem pembayarannya.
"Karena invisible barrier yang menghambat perdagangan Indonesia dan negara-negara Islam ini kebanyakan berupa non-tarriff barrier yang tak terlihat seperti tidak transparannya soal regulasi antara kedua mitra dagang," jelasnya di lokasi yang sama. (ags)