Industri Pengguna Gas Bisa Berharap Banyak dari Holding BUMN

Gentur Putro Jati, CNN Indonesia | Rabu, 18/05/2016 10:53 WIB
Industri Pengguna Gas Bisa Berharap Banyak dari Holding BUMN Penggabungan PGN ke Pertamina dinilai akan melahirkan sinergi dengan terpangkasnya biaya-biaya di jaringan pipa gas di berbagai provinsi. (Dok. PGN).
Jakarta, CNN Indonesia -- Penggabungan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) ke dalam tubuh PT Pertamina (Persero) dalam holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor energi dinilai akan menguntungkan industri pengguna gas. Kebijakan pembentukan holding BUMN energi tersebut dinilai akan mampu memangkas harga gas yang relatif tinggi saat ini.

Berly Martawardaya, Pengamat Energi Universitas Indonesia, mengatakan penggabungan PGN ke Pertamina akan melahirkan sinergi dan terpangkasnya biaya-biaya di jaringan pipa gas di berbagai provinsi.

"Jadi distribusi gas bisa lebih mudah dan harga yang lebih murah, sehingga mendorong industrialisasi," ujar Berly, dikutip Rabu (18/5).


Ia berpendapat, penggabungan PGN yang 56,96 persen sahamnya dikuasai oleh negara sebagai anak usaha Pertamina sudah tepat. Pasalnya pemerintah menguasai kepemilikan penuh atas Pertamina.

Dengan menggabungkan PGN ke Pertamina, Berly menuturkan secara otomatis saham pemerintah di PGN sebesar 56,96 persen akan dialihkan ke Pertamina. Sementara publik tetap diperbolehkan memegang 43,04 persen saham PGN selaku anak usaha Pertamina.

Wianda Pusponegoro, Vice President Corporate Communication Pertamina, mengatakan manajemen perusahaannya ingin memastikan pembentukan holding BUMN energi bisa memberikan efek positif bagi semua stakeholder yang terlibat dan juga masyarakat.

"Infrastruktur gas akan lebih terintegrasi, baik pipa transmisi atau distribusi, dan efisiensi terjadi sehingga harga gas akan turun," kata Wianda.

Pertamina merupakan BUMN terbesar di Indonesia dengan total aset bisnis terintegrasi dari hulu sampai hilir pada akhir 2015 sebesar US$45,5 miliar.

Pertamina telah berinvestasi cukup signifikan dalam pembangunan pipa transmisi demi menjamin monetisasi cadangan hulu dan optimasi produksi gas nasional. Di hulu (upstream), perseroan mengoperasikan sejumlah ladang gas dengan produksi rata-rata sekitar 1.900 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Bahkan, Pertamina pada 2018 akan menjadi operator sekaligus pemegang hak partisipasi terbesar di blok gas terbesar di Indonesia, Blok Mahakam di Kalimantan Timur. (gen)