Berly Martawardaya, Pengamat Energi Universitas Indonesia, mengatakan penggabungan PGN ke Pertamina akan melahirkan sinergi dan terpangkasnya biaya-biaya di jaringan pipa gas di berbagai provinsi.
"Jadi distribusi gas bisa lebih mudah dan harga yang lebih murah, sehingga mendorong industrialisasi," ujar Berly, dikutip Rabu (18/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan menggabungkan PGN ke Pertamina, Berly menuturkan secara otomatis saham pemerintah di PGN sebesar 56,96 persen akan dialihkan ke Pertamina. Sementara publik tetap diperbolehkan memegang 43,04 persen saham PGN selaku anak usaha Pertamina.
"Infrastruktur gas akan lebih terintegrasi, baik pipa transmisi atau distribusi, dan efisiensi terjadi sehingga harga gas akan turun," kata Wianda.
Pertamina merupakan BUMN terbesar di Indonesia dengan total aset bisnis terintegrasi dari hulu sampai hilir pada akhir 2015 sebesar US$45,5 miliar.
Pertamina telah berinvestasi cukup signifikan dalam pembangunan pipa transmisi demi menjamin monetisasi cadangan hulu dan optimasi produksi gas nasional. Di hulu (upstream), perseroan mengoperasikan sejumlah ladang gas dengan produksi rata-rata sekitar 1.900 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).
Bahkan, Pertamina pada 2018 akan menjadi operator sekaligus pemegang hak partisipasi terbesar di blok gas terbesar di Indonesia, Blok Mahakam di Kalimantan Timur. (gen)