Kemenperin Ingin Sepatu Merek Lokal Setenar Zara

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Senin, 13/06/2016 19:40 WIB
Kemenperin Ingin Sepatu Merek Lokal Setenar Zara Kemenperin akan meluncurkan sepatu pria bermerek Equator pada bulan Juli 2016. Sepatu ini merupakan implementasi program national branding. (CNN Indonesia/Nico Wijaya).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan meluncurkan sepatu pria bermerek Equator pada bulan Juli mendatang. Merek sepatu ini rencananya akan menyasar pasar internasional dan dibanderol dengan harga premium.

Euis Saedah, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin mengatakan, sepatu Equator ini merupakan implementasi dari program national branding. Yaitu, program dorongan Kemenperin kepada pelaku IKM untuk membuat produk dengan merek yang berpotensi mendunia.

Dengan program ini, Euis berharap, nantinya merek Equator bisa disejajarkan dengan kualitas produk negara Indonesia ke depannya.


"Kami ingin benar-benar menjadikan sepatu ini kebanggaan Indonesia, seperti Zara yang berasal dari Spanyol atau Uniqlo dari Jepang. Kami membuat target, semoga persepsi produk ini dapat diterima konsumen seperti apa yang kami mau," jelas Euis ditemui di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin (13/6).

Ia mengungkapkan, pengerjaan sepatu Equator ini dilakukan oleh Kemenperin dengan bermitra bersama 60 IKM yang dinilai berkualitas. Operasional sepatu ini sendiri akan dilakukan secara profesional dan dikerjakan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) berpengalaman.

Bahkan, Kemenperin juga mengusulkan akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp70 miliar di dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Penyesuaian (RAPBNP) 2016 untuk mengembangkan merek ini.

"Karena, dalam peluncuran produk kami memilih konsultan atau kontraktor yang akan menjadi manager operasional, tentunya biaya itu harus dibayar pemerintah. Kami berharap, bisa segera menjual produk ini di bandara-bandara terlebih dahulu," katanya.

Euis melanjutkan, akan lebih baik jika ada investor swasta yang bisa ikut menanamkan modalnya untuk proyek ini. Namun sayangnya, belum ada investor yang berminat karena mereka belum tahu resiko bisnis sepatu ini.

Awalnya Kemenperin juga akan meluncurkan dua merek sepatu national branding lain yang diberi nama Kakatua dan Krakatau. Namun, peluncuran dua produk ini masih belum bisa dilaksanakan karena masih mencari merek yang sesuai.

"Tadinya kami ingin menggunakan merek Komodo, cuma sudah pernah dipakai oleh negara lain. Kami juga terpikir nama Anoa, tetapi itu juga sudah didaftarkan sama perusahaan lain. Meski perusahaan itu mendaftarkan nama Anoa, tetapi sampai sekarang produknya bahkan belum terlihat di pasaran," keluhnya.

Karena proses sepatu national branding ini masih sangat panjang, Kemenperin belum mau menjajaki program national branding untuk produk lainnya. Apabila terlalu banyak produk berlabel national branding, Euis malah khawatir Kemenperin tidak bisa mengawasi aspek operasional produknya satu per satu.

Ia berkaca pada pembentukan national branding bagi produk fesyen yang diberi nama Reneo tiga tahun lalu. Di atas kertas, tambahnya, konsep itu terbilang menarik. Namun, alpanya pendampingan Kemenperin menjadikan program itu tiba-tiba berhenti di tengah jalan.

"Membuat produk national branding itu tidak mudah. Untuk produk sepatu saja, itu perlu kami bangun dalam dua tahun. Studinya saja sudah setahunan. Setahun sisanya kami gunakan untuk produksi barang agar sesuai dengan konsep. Memang tak mudah, tetapi ini harus dilakukan," pungkas Euis. (bir/bir)