Jokowi: Indonesia Butuh 10 Tahun untuk Swasembada Sapi

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Selasa, 21/06/2016 14:58 WIB
Jokowi: Indonesia Butuh 10 Tahun untuk Swasembada Sapi Sambil menunggu swasembada terwujud, impor daging sapi dianggap Presiden Jokowi sebagai solusi paling cepat untuk mengendalikan harga daging. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo menyatakan, Indonesia masih membutuhkan waktu sekitar satu dekade untuk bisa swasembada daging sapi, menunggu program pembibitan sapi menuai hasil. Sambil menunggu itu terjadi, impor daging sapi dianggapnya sebagai solusi paling tepat untuk mengendalikan harga.

Menurutnya, rata-rata setiap tahunnya dibutuhkan kurang lebih 2-3 juta ekor sapi. Untuk memenuhi kebutuhan itu, diperlukan proses pembibitan dan penggemukan sapi selama sekitar enam tahun. Untuk bisa dikonsumsi, maka harus melalui proses hilirisasi, yang diperkirakan butuh waktu tambahan sekitar tiga tahun.

"Itu harus terus menerus dengan konsistensi tinggi. Ya butuh waktu sembilan hingga sepuluh tahun lagi," ujar Jokowi ketika berkunjung ke peternakan sapi milik PT Karya Anugerah Rumpin (KAR) di Cibodas, Jawa Barat‎, Selasa (21/6).


Ia mengatakan, proses pembibitan dan penggemukan sapi merupakan program jangka panjang. Untuk itu, perlu waktu untuk melakukan seleksi ketat bibit-bibit sapi yang punya kualitas bagus untuk diternak oleh industri atau petani.
 
"Kita ini mempunyai tujuh lokasi yang sudah ada, antara lain Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat, Malang, Singosari, dan Pare-Pare," paparnya.

Dalam pelaksanaan program swasembada sapi, kata Jokowi, Kementerian Pertanian akan melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tingi.  Bahkan, Indonesia akan menjalin kerjasama dengan pemerintah Brazil dan Spanyol.

"Semunaya sudah berada pada rel yang betul. Hanya perlu konsistensi terus, jangan behenti. Dan kita tidak mungkin lagi bagi-bagi sapi ke petani tanpa manajemen pengawasan dan pendampingan. Gagal kalau seperti itu diulang," jelasnya. (ags/ags)