I Gusti Nyoman Wiratmaja, Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM mengatakan, persoalan terkait harga pupuk dunia yang tengah merosot ditengarai menjadi salah satu penyebab belum rampungnya studi bersama tersebut. Pupuk Indonesia meminta BP untuk menurunkan kembali harga gasnya.
"Masalahnya adalah harga pupuk urea yang turun drastis. Biasanya, harga urea bisa di atas US$300 per ton. Kini, harga internasionalnya hanya US$200 per ton. Sehingga, kedua pihak sepakat menghitung ulang harga gas yang ideal seperti apa," ujar Wiratmaja di Kementerian ESDM, Jumat (1/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepastian itu datang setelah Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (SKK Migas) memberikan dokumen pasokan gas bagi industri pupuk di Papua Barat, sebagai satu dari empat dokumen yang diserahkan kepada BP terkait persetujuan keputusan investasi final (Final Investment Decision/FID) proyek fasilitas Liquified Natural Gas (LNG) Tangguh Train 3 pada Jumat pekan lalu.
Kawasan Industri Teluk Bintuni yang seluas 2.344 hektare (ha) ini diperuntukkan bagi pengembangan industri petrokimia dan pupuk dengan harapan bisa menyerap investasi sebesar US$10 miliar. Pupuk Indonesia sendiri hanya menggunakan 100 ha atau seluas 4,26 persen dari total luas kawasan industri. (bir)