Pertamina Bakal Kelola Komplek Petrokimia Terbesar Indonesia

Gentur Putro Jati, CNN Indonesia | Rabu, 13/07/2016 04:04 WIB
Pertamina Bakal Kelola Komplek Petrokimia Terbesar Indonesia Selain akan menjadi pusat produksi petrokimia terbesar, pengoperasian RFCC Cilacap dan TPPI akan mengurangi impor BBM nasional secara signifikan. (Dok. Istimewa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rencana pengintegrasian Kilang Trans Pacific Petroleum Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur dan Residual Fluid Catalytic Cracker (RFCC) Cilacap, Jawa Tengah oleh PT Pertamina (Persero) bakal menjadi komplek industri petrokimia terbesar di Indonesia.

Selain memasok kebutuhan industri dasar dan juga mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), pengoperasian dua kilang pengolahan tersebut juga akan mengurangi penggunaan devisa.

“Secara keseluruhan tentunya dengan beroperasi kedua kilang tersebut negara diuntungkan," ujar Dirgo Purbo, Ahli Geoekonomi Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Selasa (12/7).

Kilang TPPI, yang terkenal dengan teknologinya yang canggih dan efisien, dalam jangka panjang akan menjadi kompleks industri petrokimia. Potensi kawasan itu menjadi pusat pengembangan petrokimia sangat besar karena Kilang TPPI selain mampu memproduksi Premium, Solar, LPG dan HOMC 92 (dikenal sebagai Pertamax 92) juga dapat menghasilkan aromatik.


Bahan-bahan turunan dimaksud antara lain, petrochemical seperti Paraxylene, Orthoxylene, Benzene, dan Toluene yang dibutuhkan oleh industri nasional.

Sedangkan RFCC Cilacap, selain produksi bahan bakar minyak juga memproduksi petrokimia dengan peningkatan menonjol pada produksi paraxylene dari 280 ribu barel per hari (bph) menjadi 485 ribu bph. RFCC Cilacap juga mengembangkan pabrik produksi polypropylene baru untuk menaikkan produksi polypropylene menjadi 153 ribu kilo ton per tahun. Proyek ini ditargetkan tuntas dan beroperasi pada 2021.

Berdasarkan data Pertamina, pengoperasian RFCC Cilacap dan Kilang TPPI membuat impor premium turun sekitar 30-42 persen dan pengurangan impor minyak diesel/solar sebanyak 44 persen. Unit RFCC mengolah feed stock berupa LSWR sebanyak 62 ribu bph menjadi produk bernilai tinggi, yaitu HOMC 37 ribu bph.

Dari produksi HOMC tersebut, sebagian besarnya diproses lebih lanjut untuk diproduksikan menjadi premium sehingga produksi premium dari kilang Cilacap naik dari 61 ribu bph menjadi 91 ribu bph.

Sementara itu kilang TPPI dapat mengolah sekitar 100 ribu bph kondensat dan naphta. Dari pengolahan bahan baku dengan mogas mode akan diperoleh beberapa produk minyak, seperti elpiji, solar, fuel oil, premium, dan HOMC. TPPI dapat menghasilkan sekitar 61 ribu bph premium, 10 ribu bph HOMC, dan 11.500 bph solar.

Swasembada BBM

Seiring pengoperasian RFCC Cilacap dan TPPI, sejak Mei 2016 Pertamina sudah tidak mengimpor solar, bahkan sudah surplus karena produksi nasional sudah mencapai 51 juta barel. Dan 2023 akan terjadi swasembada BBM karena produksi kilang mencapai dua juta barel per hari.

Dirgo mengatakan kunci untuk menunjang swasembada BBM adalah meningkatkan produksi minyak mentah di dalam negeri dan jika memungkinkan meningkatkan program "farm in" ladang-ladang minyak yang beroperasi di Indonesia.

"Juga di kawasan Timur Tengah seperti Irak, Iran dan Kuwait yang mempunyai kualitas minyak light crude," tukasnya.

Ferdinand Hutahean, Direktur Eksekutif Energi Watch Indonesia, mengatakan untuk menuju swasembada BBM pada 2023 bukan hal mudah jika tidak dilakukan upaya yang kompeherensif. Paling utama yang harus dilakukan adalah pembangunan kilang minyak hingga mencapai kapasitas minimal dua juta barel perhari, meningkatkan bauran energi dengan bioenergi serta substitusi energi.

"Untuk mengoptimalkan kilang kita tidak hanya bisa berpangku pada minyak mentah lokal. Masalahnya juga belum tentu minyak mentah kita cocok spek-nya diolah dikilang yang ada. Jadi tetap harus ada kerja sama jangka panjang dengan produsen minyak dari luar," ungkap Ferdinand.

Pengoperasian RFCC Cilacap dan TPPI, lanjut Ferdinand, akan mengurangi impor BBM nasional cukup signifikan. Dengan mengurangi angka impor nasional akan berpengaruh terhadap neraca perdagangan dan berpengaruh terhadap penggunaan valuta asing yang selama ini digunakan untuk impor BBM.

“Selain pengurangan angka impor, pengoperasian RFCC Cilacap dan TPPI juga akan meningkatnya daya tahan energi nasional serta pertumbuhan industri dasar di Indonesia,” katanya. (gen)