Kelebihan Pasokan, BKPM Minta Investasi Semen Disetop

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Senin, 08/08/2016 17:20 WIB
Kelebihan Pasokan, BKPM Minta Investasi Semen Disetop Ilustrasi aktivitas pengolahan semen salah satu produsen semen raksasa. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengimbau pelaku industri semen untuk tidak menambah tebal investasinya sementara waktu di Indonesia. Pasalnya, produksi semen nasional saat ini berlebihan dan kapasitasnya pun sudah maksimal.

Kepala BKPM Thomas Lembong mengatakan, keadaan tersebut diperparah dengan permintaan yang lebih rendah ketimbang pasokannya. Makanya, ia mengimbau, investor untuk berinvestasi di sektor lain dan mengalihkan penanaman modalnya dari industri semen.

Menurut data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), saat ini, kapasitas industri semen nasional tercatat 92 juta ton dalam satu tahun. Padahal, kebutuhan nasional tercatat cuma 62 juta ton per tahun atau 67,39 persen dari total produksi semen.


"Ada beberapa sektor yang overcapacity (kelebihan kapasitas) dan oversupply (kelebihan pasokan), seperti semen yang kami imbau untuk tidak ditambah investasinya," tegas Thomas, Senin (8/8).

Dengan demikian, ia menyangsikan, kalau investasi di industri semen bisa memiliki tingkat pengembalian/hasil investasi yang menarik. Hal ini diungkapkannya berkaca pada kinerja beberapa perusahaan semen raksasa yang mengalami penurunan pendapatan pada semester I 2016.

Sebagai informasi, tercatat dua pemain utama di pasar semen Tanah Air, yakni PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dengan pangsa pasar 41,7 persen, dan PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk dengan pangsa pasar sebesar 26,6 persen.

Sampai semester I 2016, Indocement mengalami penurunan pendapatan sebesar 14,63 persen menjadi Rp7,74 triliun dari sebelumnya Rp8,87 triliun. Sementara itu, pendapatan Semen Indonesia pada paruh pertama tahun ini turun tipis 1,36 persen menjadi Rp12,47 triliun dari Rp12,64 triliun.

"Investasi pembangunan pabrik semen di Indonesia mulai tidak profitable (menguntungkan). Rugi sih tidak, tapi memangnya investor masih mau investasi kalau kondisinya begitu?" imbuh mantan Menteri Perdagangan itu.

Selain semen, Thomas juga mengimbau pelaku industri pengolahan karet untuk tidak menambah kapasitasnya. Karena, saat ini, kapasitas pabrik karet telah melampaui produksinya, sehingga tidak mampu lagi menampung bahan baku.

"Tapi, kalau mereka (investor) masih mau investasi di sektor-sektor ini nantinya tentu bisa saja, karena belum ada kebijakan yang melarang," katanya.

Kementerian Perindustrian menyayangkan hal tersebut. Menurut Achmad Sigit Dwiwahjono, Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin, negara seharusnya tidak menghalangi investasi yang masuk sampai ada kebijakan yang melarang investasi tersebut.

Lebih lanjut ia mengatakan, kelebihan suplai yang terjadi saat ini juga bersifat sementara, karena ia yakin proyek-proyek infratsruktur yang akan dijalankan pemerintah beberapa waktu ke depan akan meningkatkan permintaan semen.

"Memang, sekarang situasinya lebih banyak pasokannya, ini yang terjadi sekarang. Tetapi, kami yakin, dengan pertambahan penduduk, pertumbuhan infrastruktur, perumahan hingga jalan-jalan nantinya akan meningkatkan permintaan," ujar Sigit kepada CNN Indonesia.

Melengkapi ucapan Sigit, Kepala Badan Pusat Pengkajian Industri (BPPI) Kemenperin Haris Munandar berharap, rencana investasi semen yang akan masuk juga tidak dihalangi begitu saja. Jika memang pasar domestik kelebihan pasokan, maka menurutnya akan lebih bijak jika pemerintah mengarahkan produksi investasi semen yang baru untuk pasar ekspor.

"Kalau memang Indonesia kerepotan gara-gara semen sudah kelebihan suplai, kan lebih baik eksplor pasar di luar negeri biar produksi dalam negeri terserap," pungkasnya. (bir/gen)