Eric Alexander Sugandi, Ekonom Senior Kenta Institute, mengatakan langkah yang diambil Jokowi mengindikasikan pemerintah lebih berhati-hati dalam mengarungi tahun depan. Target penerimaan perpajakan pun dipangkas turun Rp48,6 triliun menjadi Rp1.737,6 triliun.
"Lebih realistis, lebih baik berhati-hati daripada terlalu optimistis," ujar Eric kepada CNNIndonesia.com, Selasa (16/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini bakal berpengaruh ke penerimaan perpajakan dari migas dan sumber daya alam," katanya.
"Asumsi pertumbuhan ekonomi 2017 di 5,3 persen lebih realistis sementara angka inflasi di 4 persen mencerminkan sikap hati-hati karena inflasi tahun depan saya perkirakan di kisaran 3,5 - 4 persen," katanya.
Dari sisi konsumsi, lanjut Eric, pemerintah harus bisa menjaga daya beli masyarakat agar tetap optimal. Program penyaluran dana sosial hingga stabilisasi harga pangan melalui pelaksanaan impor yang lebih cepat dan terencana harus dirumuskan secara matang terutama untuk komoditas pangan yang kerap kali menggerogoti daya beli masyarakat.
Senada dengan Eric, Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, kerangka kebijakan fiskal tahun depan cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Konsumsi masyarakat juga akan cenderung membaik seiring meningkatnya investasi sektor swasta sebagai dampak positif program Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) yang sudah berdampak pada sektor riil tahun depan.
"Menurut saya, dengan semakin realistis, pemerintah akan lebih kredibel," jelas Josua.
Tahun depan, pemerintah memperkirakan defisit fiskal akan melebar menjadi Rp332,8 triliun atau 2,41 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Namun dengan target yang lebih realistis, lanjut Josua, pemerintah dapat mencegah risiko membengkaknya defisit anggaran sehingga kebijakan fiskal pada tahun depan akan cenderung lebih fleksibel dengan potensi pemangkasan belanja yang kecil.
"Hal yang positif adalah bahwa RAPBN didasarkan pada pencapaian penerimaan pajak supaya memberikan fleksibilitas fiskal namun tetap memperhatikan skala prioritas dari belanja pemerintah," jelasnya. (gen)