"Target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen pada RAPBN 2017, selain dirancang agar semakin realistis, dan lebih berkualitas, sekaligus juga akan diupayakan lebih bersifat inklusif sehingga mampu menciptakan lebih banyak kesempatan kerja dan mengurangi kemiskinan, "tutur Menteri Keuangan Sri Mulyani saat menghadiri Rapat Paripurna di Gedung DPR, kemarin.
Sri Mulyani mengungkapkan, pemerintah akan melanjutkan program sebelumnya yang bertujuan untuk mengurangi angka kemiskinan tahun depan di kisaran 9,5-10,5 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam rangka penyaluran subsidi pangan yang lebih tepat sasaran pemerintah akan melakukan konversi subsidi pangan menjadi program bantuan pangan dalam bentuk nontunai (voucher) secara langsung kepada rumah tangga sasaran secara bertahap.
"Dengan PBDT 2015 tersebut, kita bisa melihat dan menganalisis hingga 40 persen masyarakat termiskin di Indonesia, lengkap dengan nama, alamat, dan karakteristik rumah tangga, " ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga akan menurunkan ketimpangan pendapatan dengan mendorong konektivitas dan mendorong pembangunan daerah.
"Penurunan tingkat ketimpangan pendapatan akan dilakukan melalui perbaikan distribusi pendapatan, perluasan kesempatan kerja, pembangunan infrastruktur konektivitas serta peran daerah atau desa dalam pembangunan," ujarnya.
"Pembangunan infrastruktur yang berpola pemberdayaan dan berpihak pada wilayah tertinggal, terpencil, dan terluar diharapkan dapat membuka kesempatan kerja, dan mengurangi kesenjangan pembangunan antar wilayah, serta membuka peluang tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru,"jelasnya.
Tahun depan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) ditargetkan bisa di kisaran 5,3 - 5,6 persen atau turun dari proyeksi tahun ini sebesar 5,7 persen dan tahun lalu sebesar 6,2 persen. (gir)