Agus mengungkapkan, tahun ini, kredit diperkirakan hanya akan tumbuh satu digit. Beberapa penyebabnya antara lain perlambatan pertumbuhan ekonomi global, turunnya ekspor, dan masih lemahnya harga komoditas. Selain itu, ada kecenderungan peningkatan kredit macet (NPL) yang menyebabkan perbankan lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Agus meyakini penyaluran kredit perbankan akan lebih baik dibandingkan tahun ini. Hal itu didukung oleh ekspektasi semakin menggeliatnya investasi swasta dan berjalannya proyek pembangunan infrastruktur pemerintah.
Lebih lanjut, ia mengatakan, pertumbuhan kredit tahun depan juga akan didukung oleh likuiditas yang terjaga. Potensi dana repatriasi yang berasal program amnesti pajak hingga 31 Maret 2017 menjadi jaminannya. BI sendiri memperkirakan dana repatriasi yang masuk dari program amnesti pajak mencapai Rp180 triliun.
"Kami melihat program pengampunan pajak yang ditawarkan mulai semester II 2016 sampai kuartal I tahun depan akan membawa dana masuk ke Indonesia cukup banyak," kata mantan Menteri Keuangan ini.
Secara terpisah, Direktur PT Bank Rakyat Indonesia Asmawi Syam menyatakan target pertumbuhan kredit perseroan tahun depan akan ada di atas target rata-rata pertumbuhan kredit nasional.
“Khusus untuk sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kami harapkan bisa tumbuh di angka 17 persen,” ujarnya. (ags/gen)