Hal tersebut dilakukan jika defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016 melebar dari 2,35 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) menjadi 2,7 persen dari PDB.
Robert Pakpahan, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, mengungkapkan, sebelumnya pemerintah memproyeksikan defisit akhir tahun akan berada di level 2,5 persen terhadap PDB.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, jika defisit kembali melebar menjadi 2,7 persen dari PDB maka pemerintah harus menambah lagi penerbitan SBN sebesar Rp27 triliun menjadi sekitar Rp665,4 triliun.
“Jadi tidak ada rencana penerbitan (SBN) di luar negeri untuk pelebaran defisit sampai dengan 2,7 persen dari PDB,” kata Robert saat ditemui di Gedung Djuanda I Kemenkeu, Rabu (21/9).
Lebih lanjut, selain melalui lelang SBN reguler, Robert juga bakal menampung jika ada permintaan penawaran terbatas (private placement) untuk membiayai defisit anggaran negara.
Sebagai informasi, per hari ini, realisasi penerbitan SBN gross telah mencapai Rp571,6 triliun dari target dalam APBNP 2016, Rp611,4 triliun. Sementara, realisasi SBN netto tecatat sebesar Rp374,5 triliun lebih tinggi dari target Rp364,8 triliun. (gir)