Ekspansi Lemah, Kredit Investasi dan Modal Kerja Tumbuh Lesu

Elisa Valenta Sari, CNN Indonesia | Senin, 03/10/2016 13:15 WIB
Ekspansi Lemah, Kredit Investasi dan Modal Kerja Tumbuh Lesu Bank Indonesia (BI) mencatat pada Agustus 2016, penyaluran KMK dan KI tercatat masing-masing sebesar Rp1.933,7 triliun dan Rp1.050,9 triliun. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perlambatan ekonomi memaksa sejumlah perusahaan menunda ekspansi bisnisnya di tahun ini. Kondisi tersebut berimbas pada melemahnya permintaan kredit investasi (KI) dan modal kerja (KMK) yang disediakan oleh perbankan.

Bank Indonesia (BI) mencatat pada Agustus 2016, penyaluran KMK dan KI tercatat masing-masing sebesar Rp1.933,7 triliun dan Rp1.050,9 triliun. KMK dan KI tersebut tumbuh 4,5 persen dan 9,5 persen secara tahunan, melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang naik sebesar 5,8 persen dan 10,4 persen secara tahunan.

Perlambatan penyaluran kredit pada KMK maupun KI terutama terjadi pada sektor industri pengolahan dan sektor pertambangan. Pada sektor industri pengolahan, pertumbuhan KMK melambat dari 2,1 persen pada Juli 2016 menjadi 0,8 persen secara tahunan pada Agustus dengan penyaluran kredit sebesar Rp505,9 triliun. Sementara itu, KI pada sektor tersebut melambat dari 8,6 persen menjadi 6,2 persen secara tahunan menjadi Rp219,7 triliun.


Pada sektor pertambangan dan penggalian, kredit investasi tumbuh melambat dari 10 persen pada Juli 2016 menjadi 4,9 persen secara tahunan menjadi Rp52,4 triliun.

Seretnya permintaan KI dan KMK turut dirasakan oleh Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ (BTMU) Indonesia. Deputi General Manager dan Executive Vice President BTMU Pancaran Affendi mengatakan, permintaan kredit sindikasi untuk korporasi tidak segencar tahun lalu. Alhasil, ia memperkirakan tahun ini pertumbuhan kredit bank asal Jepang itu tidak akan mencapai dua digit.

"Kalau kita lihat OJK dan Bank Indonesia proyeksinya tahun ini tidak mencapai 10 persen. Kira-kira butuh dua tahun lagi kalau mau double digit," ujar Affendi kepada CNNIndonesia.com, Senin (3/10).

Affendi mengatakan realisasi pembangunan proyek infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah bisa menjadi sentimen positif bagi permintaan kredit korporasi. BTMU sendiri telah banyak terlibat dalam pembiayaan proyek infrastruktur dalam negeri seperti LRT, MRT hingga telekomunikasi.

Secara keseluruhan, BI mencatat penyaluran kredit tumbuh 6,7 persen secara tahunan sampai Agustus 2016, dengan total penyaluran kredit mencapai Rp4.178,6 triliun. Kinerja tersebut melambat dibandingkan posisi Juli yang masih tumbuh 7,6 persen secara tahunan.

Sementara itu, kredit pada segmen properti justru menunjukkan peningkatan dari 12,1 persen pada Juli 2016 menjadi 12,3 persen secara tahunan pada Agustus 2016 dengan total penyaluran kredit sebesar Rp671,7 triliun. (gir/gen)