"Kami menduga ada imbas dari tax amnesty yang memberikan kontraksi terhadap industri. Karena beberapa pengusaha mungkin menahan diri selama tax amnesty sehingga ada capex (belanja modal) yang ditahan dulu," jelas Airlangga di Bina Graha Istana Kepresidenan, Selasa (25/10).
Namun, Politisi Partai Golkar itu meyakini aktivitas industri akan kembali menggeliat pada kuartal terakhir menjelang pergantian tahun. Akselerasi industri di Oktober-Desember 2016 diharapkan mampu mencapai target pertumbuhan manufaktur yang dipatok 5,7 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di akhir tahun, perusahaan publik cenderung memilih untuk melakukan perbaikan produksi sehingga kita melihat akan ada geliat di kuartal IV," kata Airlangga.
Namun, ia memprediksi aliran dana repatriasi ke sektor manufaktur baru akan terjadi pada kuartal I 2017. Apabila dana yang masuk signifikan dan harga gas turun, Airlangga yakin pertumbuhan industri tahun depan akan lebih tinggi dari tahun ini. Sejauh ini, pemerintah masih mengupayakan penurunan harga gas untuk sektor industri menjadi sekitar US$5-US$6 per MMBTU. (ags)