Ketua Perhimpunan Bank-Bank Nasional (Perbanas) Kartika Wirjoatmodjo mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Terlebih di tengah perlambatan ekonomi global dan persaingan bisnis yang ketat, perbankan nasional dituntut untuk melakukan pendalaman pasar keuangan seperti membuka cabang di pelosok Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria yang juga Direktur Utama Bank Mandiri itu berpendapat, Indonesia tidak mungkin bisa menyamakan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang rata-rata rasio efieinsi biayanya hanya 30 persen.
Menurutnya, perlambatan pertumbuhan sektor riil juga menjadi penghambat perbankan untuk mencatatkan kinerja terbaik tahun ini. Ia menyebut, beberapa tahun terakhir ini kualias kredit cenderung menurun sehingga mendorong bank menyisihkan dana pencadangan yang tinggi.
Salah satu cara perbankan untuk bertahan di kondisi tersebut adalah dengan menjaga biaya agar tidak terlalu tinggi. Manajemen biaya dinilai menjadi kunci utama agar bank tidak kolaps menghadapi industri yang melambat.
"Kalau 5-10 tahun terakhir semua orang bisa happy-happy karena pertumbuhan tinggi, nah sekarang ini sudah masuk ke fase pertumbuhan yang agak melambat. Tentunya kita perlu pemikiran baru supaya kita tidak ada overlapping yang akhirnya menimbulkan efisiensi dari bank. Bukan masing-masing bank, tapi secara keseluruhan," jelasnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, ia menilai industri perbankan perlu memikirkan konsolidasi serta strategi bisnis baru untuk menghadapi kondisi ekonomi terkini.
"Kalau saya di Perbanas melihat bahwa revitalisasi dari pada arsitektur perbankan atau secara lebih luas arsitektur keuangan Indonesia. Itu jadi krusial lagi karena perubahan market environment-nya itu sangat drastis," katanya. (ags)