Jerry menjelaskan, raupan laba yang tak sebesar harapan disebabkan membengkaknya beban operasional BTPN sejalan dengan investasi besar-besaran di lini bisnis digital.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Belanja teknologi ini tentu saja mengerek beban operasional, tapi kami optimistis investasi ini akan memberikan dampak positif dan signifikan bagi perusahaan di masa mendatang,” katanya.
Sementara itu, Jerry mengungkapkan pertumbuhan kredit BTPN sebesar 10 persen pada kuartal III 2016. Total penyaluran kredit BTPN hingga akhir September 2016 tercatat sebesar Rp62,6 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp56,9 triliun.
Kendati demikian, lanjutnya, perseroan menyalurkan kredit secara berhati-hati sehingga rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) mampu dijaga di level yang rendah, yakni 0,8 persen.
“Pertumbuhan kredit sebesar 10 persen dengan NPL terjaga di 0,8 persen mencerminkan kami masih ekspansif, tetapi tetap menjaga kualitas kredit yang disalurkan,” kata Jerry Ng.
Dari sisi pendanaan (funding), total pendanaan BTPN meningkat 5 persen, dari Rp65,2 trilun pada akhir September 2015 menjadi Rp68,8 triliun pada akhir September 2016. Dari jumlah tersebut, komposisi dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp65,2 triliun atau naik 10 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp59,1 triliun. Sedangkan komposisi pinjaman bilateral dan obligasi mencapai Rp3,5 triliun.
Alhasil, aset BTPN ikut naik 7 persen menjadi Rp86,1 triliun dari Rp80,1 triliun pada akhir September 2015. Adapun rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perseroan tercatat sebesar 24,8 persen. (ags)