Investasi Saratoga Menanjak 36 Persen Jadi Rp18,5 Triliun

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Selasa, 01/11/2016 11:05 WIB
Investasi Saratoga Menanjak 36 Persen Jadi Rp18,5 Triliun Perkembangan sektor sumber daya alam dan konsumer memberikan pengaruh positif terhadap kinerja perusahaan bentukan Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno ini. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan investasi, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) mencatatkan kinerja yang cemerlang sepanjang 2016. Dalam sembilan bulan pertama tahun 2016, nilai aset bersih dari portofolio investasi Saratoga tumbuh 36 persen ke Rp18,5 triliun, dikontribusikan oleh fluktuasi harga pasar dari investasi yang terdaftar dan penambahan investasi baru.

Presiden Direktur Saratoga Michael W.P. Soeryadjaya mengatakan, fundamental bisnis yang kuat dipadukan dengan perkembangan sektor sumber daya alam dan konsumer memberikan pengaruh positif terhadap kinerja perusahaan investasi Saratoga.

Hal itu tercermin dalam kenaikan harga saham portofolio perusahaan investasi Saratoga yang terdaftar, terutama PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dan PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX).


“Sepanjang kuartal ketiga, kedua perusahaan investasi itu saja mampu mengkontribusikan pertambahan nilai investasi sebesar Rp2,4 triliun bagi Saratoga,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (1/11)

Di kuartal ketiga tahun 2016, perusahaan bentukan Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno ini juga menerima pendapatan dividen sebesar Rp233 miliar dari perusahaan-perusahaan investasinya, yaitu PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Provident Agro Tbk (PALM).

“Pendapatan dividen yang diterima pada sembilan bulan pertama 2016 dengan total sebesar Rp462 miliar ini melebihi total beban usaha dan biaya bunga perusahaan tahun ini,” ungkap Michael.

Michael menambahkan, kinerja Saratoga yang solid di sembilan bulan pertama tahun 2016 menggambarkan fundamental perusahaan yang kuat dan model bisnis yang solid dari perusahaan-perusahaan investasi.

“Strategi investasi yang dilakukan Saratoga di sektor-sektor strategis menjadi katalis utama pertumbuhan investasi perusahaan hingga kuartal III 2016. Kami percaya dengan prospek ekonomi Indonesia yang semakin membaik akan berdampak positif pada investasi Saratoga dalam jangka panjang,” jelas Michael.

Direktur Keuangan Saratoga Jerry Ngo mengatakan sebagai perusahaan investasi yang aktif, Saratoga dengan prinsip kehati-hatian berhasil menangkap potensi peluang pertumbuhan bisnis yang tinggi.

Ia mengungkapkan, setelah merampungkan proses due diligence yang matang, perusahaan memutuskan untuk melakukan investasi di PT Famon Awal Bros Sedaya (FABS), grup bisnis yang saat ini memiliki dan mengelola empat (4) rumah sakit terkemuka di Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan Makasar di bawah bendera RS Awal Bros.

“Investasi di industri kesehatan ini merupakan salah satu strategi perusahaan untuk memperkuat portofolio investasi kami di sektor konsumer, serta sejalan dengan upaya Saratoga untuk turut memperkuat layanan kesehatan yang berkualitas dan mendukung program pemerintah untuk meningkatkan layanan kesehatan nasional,” kata Jerry.

Untuk diketahui, 2016 adalah tahun transisi bagi Saratoga yang mulai menerapkan nilai wajar terhadap aset-aset investasinya sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 65: Pengecualian Konsolidasi”.

Perubahan ini dimaksudkan untuk memberikan representasi yang lebih memadai atas kinerja underlying perusahaan dan model bisnisnya yang unik. Sesuai dengan PSAK, perubahan ini diterapkan secara prospektif (berlaku ke depan), maka laporan kinerja keuangan perseroan di 2016 tidak dapat dibandingkan dengan laporan keuangan tahun 2015. (gir/ags)