Dalam Enam Bulan, Portofolio Investasi Saratoga Naik 26%

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Jumat, 05/08/2016 07:44 WIB
Dalam Enam Bulan, Portofolio Investasi Saratoga Naik 26% Portofolio investasi PT Saratoga Investama Sedaya Tbk tumbuh 26 persen dari Rp13,6 triliun di akhir 2015 menjadi Rp17,1 triliun pada 30 Juni 2016. (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan investasi, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) mencatatkan kinerja positif di paruh pertama tahun ini. Portofolio investasi perseroan tumbuh 26 persen dari Rp13,6 triliun pada 31 Desember 2015 menjadi Rp17,1 triliun pada 30 Juni 2016.

“Pertumbuhan ini terutama diperoleh dari peningkatan nilai pasar dari investasi perseroan di sektor sumber daya alam serta didukung oleh kinerja perusahaan investasi di sektor infrastruktur dan konsumer,” kata Presiden Direktur Saratoga Michael W.P. Soeryadjaya dalam keterangan resmi, Kamis (4/8).

Untuk diketahui, mulai semester I tahun 2016, perusahaan yang didirikan oleh William Soeryadjaya dan Sandiaga Uno ini telah menerapkan “Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 65: Pengecualian Konsolidasi” dalam pelaporan kinerja keuangan perseroan. PSAK 65 baru tersebut memungkinkan Saratoga untuk menerapkan nilai wajar atas aset-aset investasinya.

“Karena perubahan ini diterapkan secara prospektif (berlaku ke depan), maka laporan kinerja keuangan perseroan di 2016 tidak dapat dibandingkan dengan laporan keuangan konsolidasi tahun 2015,” jelasnya.

Menurutnya, hal itu menjelaskan bahwa metodologi penilaian wajar tersebut memberikan gambaran yang lebih jelas terhadap kinerja Saratoga sebagai perusahaan investasi aktif, sejalan dengan model bisnis perseroan yang efektif dalam melakukan investasi, mendorong pertumbuhan serta memonetisasi investasinya.

Direktur Keuangan Saratoga Jerry Ngo menambahkan, perubahan dalam penyajian laporan keuangan ini dilakukan atas dasar pertimbangan yang matang untuk dapat menyajikan laporan keuangan yang lebih jelas dan akurat.


“Hal ini diharapkan akan memudahkan para pemegang saham, kreditur dan para pelaku pasar modal untuk dapat mengambil keputusan investasi yang tepat,” katanya.

Ia menjelaskan, melalui penyajian laporan akuntansi baru ini, Saratoga tercatat berhasil membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemegang saham sebesar Rp4,8 triliun.

Capaian itu mencakup one-off gain sebesar Rp2,2 triliun yang sebagian besar sebagai akibat dari perubahan penyajian pelaporan keuangan dan Rp2,6 triliun yang sebagian besar dikontribusikan dari peningkatan nilai pasar atas investasi Saratoga di Adaro Energy dan Tower Bersama.

Michael menambahkan, Saratoga terus menerapkan pendekatan yang disiplin dengan prinsip kehati-hatian dalam menyeleksi peluang investasi. Di awal tahun ini, Saratoga masuk ke sektor rantai pasokan logistik pendingin (cold-chain logistics) dengan mengakuisisi saham PT Mulia Bosco Logistik (MGM Bosco).

“Transaksi tersebut memberikan peluang yang sangat baik bagi Saratoga dalam membangun platform di sektor cold-chain logistics yang sangat menarik, mengingat selain memiliki pertumbuhan tinggi, sektor ini juga memiliki prospek yang cerah sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap infrastruktur logistik vital di negara ini,” kata Michael.

Selain itu, ia mengaku Saratoga juga berhasil menerapkan siklus model bisnisnya secara menyeluruh (Investing-Growing-Monetizing) melalui divestasi kepemilikan saham Saratoga di PT Pulau Seroja Jaya senilai Rp98 miliar yang menghasilkan internal rate of return (IRR) sebesar 48 persen selama 8 tahun.

“Sebagai bagian dari komitmen kepada pemegang saham, tahun ini Saratoga juga memutuskan untuk membagikan dividen – pertama kali sejak IPO tahun 2013,” jelasnya. (gir)