Seperti diberitakan sebelumnya, pelaku pasar modal dikagetkan oleh hasil voting warga Amerika Serikat yang menyatakan Trump mengungguli rivalnya dari Partai Demokrat Hillary Clinton. Padahal, dalam beberapa hari terakhir, pasar cenderung yakin Clinton bakal gantikan Barrack Obama.
Dampaknya, indeks saham regional Asia kompak melemah kemarin, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup terkoreksi ke level 5.414 atau turun 56,36 poin (1,03 persen).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Sri Mulyani meyakinkan bahwa fundamental ekonomi nasional dalam kondisi baik. Hal ini diyakininya bisa meredam sentimen negatif di pasar yang dipicu oleh keadaan politis Negeri Paman Sam.
Menurut Sri Mulyani, lama gejolak di pasar tergantung dari kebijakan yang akan diambil Trump ke depan.
"Market itu kan bereaksi berdasarkan informasi dan harapan yang mereka miliki, tentu tergantung dari harapan mereka dari apa yang berkembang di AS," ujarnya.
"Kita hormati pilihan rakyat Amerika dalam memilih pimpinan mereka. Sebagai negara demokratis, kita juga ingin pilihan rakyat selalu dihormati," jelasnya.
Sebagai informasi, Trump berhasil mengungguli Clinton dengan perolehan 288 electoral votes, memenuhi syarat minimal 270 electoral votes bagi seorang calon presiden AS untuk memenangi pemilu. Sementara, Clinton hanya mampu meraup 215 electoral votes. (gir/gen)