Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Nelson Tambupolon menerangkan, menurunnya jumlah penyaluran kredit berdenominasi valuta asing (valas) menjadi faktor yang mengurangi risiko kurs. Hal ini yang membuatnya yakin bahwa volatilitas rupiah tidak akan berpengaruh signifikan terhadap ketahanan perbankan nasional.
"Kalau dilihat kan data pinjaman luar negeri kan semakin menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jadi, tidak ada masalah," ungkap Nelson, Senin (14/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, OJK pernah melakukan uji ketahanan (stress test) terhadap nilai tukar rupiah jika terdepresiasi hingga menyentuh level Rp17 ribu per dolar AS. Dengan nilai tersebut, industri perbankan dinilai tetap tak terganggu dan masih terbilang sehat.
"Nah sekarang ini masih jauh ya, masih dibawah Rp14 ribu," pungkas Nelson.
Namun demikian, pada Senin sore (14/11) OJK memanggil direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan direksi sejumlah bank besar di Indonesia. Pemanggilan dilakukan guna menyikapi dan mengkoordinasikan kebijakan terkait pelemahan rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
"Kami dipanggil OJK, jam 18.00. Kami juga akan bertukar informasi dengan perbankan,” ungkap Direktur Utama BEI, Tito Sulistio, Senin (14/11). (ags)