Dewan Eksekutif IMF Luis E Breuer menyebut perekonomian Indonesia terus menunjukkan perbaikan. Hal ini didukung oleh kebijakan makroekonomi yang baik, serta reformasi struktural yang terus berlanjut.
"Pemerintah dan otoritas secara terampil mampu melewati tantangan ekonomi terkini yang tengah melanda ekonomi global. Pertumbuhan tetap kuat, inflasi menurun secara signifikan, defisit transaksi berjalan tetap terjaga. Kondisi ini yang mampu menopang ekonomi tahun depan," ujar Breuer dalam keterangan resminya, Jumat (25/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Inflasi diprediksi menyentuh 3,3 persen akhir tahun nanti atau tetap berada di kisaran target Bank Indonesia (BI) yang mencapai 4 plus minus satu. Sejalan dengan itu defisit transaksi berjalan diproyeksi meningkat di atas 2 persen dari PDB tahun depan menjadi 2,3 persen didorong oleh peningkatan angka investasi tetap dan aktivitas impor.
IMF memuji mplementasi kebijakan moneter BI melalui acuan barunya, yakni BI 7 Days Reverse Repo rate yang dinilai berjalan lancar di tengah gejolak keuangan pasar global. Rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan pun disebut telah secara signifikan menurun dan disebut telah melewati titik puncaknya.
"IMF menyambut baik kebijakan BI yang mempertahankan suku bunganya baru-baru ini. Kekuatan modal, dan profitabilitas di sektor keuangan masih menunjukan indikasi yang bagus," terang Beuer.
Selain itu, ada progres yang baik dengan disetujuinya Undang-Undang Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK). Progres juga sudah dilakukan Indonesia dengan mengkonsolidasikan pengawasan sektor keuangan.
"Melanjutkan reformasi subsidi BBM di 2015, pemerintah juga mulai mereformasi untuk memperbaiki iklim bisnis, termasuk membangun infrastruktur, memperbaiki regulasi, membuka sejumlah sektor ekonomi kepada swasta, dan juga membuat formula baru upah minimum," pungkasnya. (bir)