Asal tahu saja, selama lebih dari 28 tahun, Indonesia mandek di kelompok negara kelas menengah ke bawah dengan pendapatan per kapita sekitar US$3.400 per tahun. Apabila tidak ingin terjebak, maka produk domestik bruto per kapita Indonesia harus lebih dari US$12.000 per tahun di tahun 2030 mendatang.
"Keinginan lepas dari middle income trap harus didorong oleh reformasi struktural, terutama pada industri manufaktur," terang Yoga Affandi, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI di Surabaya, Kamis (24/11) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terbukti, di banyak negara-negara besar, ketika mereka mau memajukan taraf hidup, mereka beralih dari sektor pertanian ke manufaktur baru ke jasa," katanya.
Sekadar membandingkan, sebelum krisis ekonomi tahun 1998 lalu, kontribusi industri manufaktur terhadap kue perekonomian bisa mencapai 28 persen. Pada kuartal ketiga tahun ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, porsinya melorot menjadi hanya 19,9 persen.
"Keinginan kita untuk mensejahterakan rakyat harus diikuti dengan transformasi di sektor-sektor yang memang memiliki akar yang kuat di negara kita," ucapnya.
Josua Pardede, Ekonom Bank Permata menambahkan, untuk keluar dari middle income trap, pemerintah perlu meningkatkan kualitas pertumbuhan. Tak hanya berkonsentrasi untuk mengejar suatu angka pertumbuhan ekonomi tertentu.
Ia menegaskan, tahun 2000-an lalu, satu persen pertumbuhan ekonomi bisa menyerap 400 ribu hingga 500 ribu-an tenaga kerja. Tetapi, satu persen pertumbuhan ekonomi tahun lalu, penyerapan tenaga kerja cuma sekitar 250 ribu-an saja.
Dengan mengembangkan sektor manufaktur, pertumbuhan ekonomi diharapkan, dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja. Pada akhirnya, sambung dia, meningkatkan taraf hidup masyarakat. (bir)