"Itu target yang tidak ringan tetapi saya meyakini apabila masyarakat digerakkan untuk menabung, dipromosikan dan disosialisasikan dengan baik, ini bukan sesuatu mustahil," tutur Jokowi saat menghadiri 'Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Hotel Fairmont Jakarta,Selasa (6/12).
"Pelajar, petani, nelayan, harus mulai kita kenalkan dengan sistem perbankan kita," tambahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya kira untuk investasi menengah dan kecil juga butuh anggaran dan uang yang mau tidak mau akan menyedot perbankan kita. Tetapi, kalau tabungan nasional kita tidak bisa memberikan support disitu, saya kira ini akan menghambat investasi di dalam negeri," ujarnya.
"Bangsa kita itu senang sekali saving-nya dalam bentuk tanah," kata Darmin.
Keinginan masyarakat untuk lebih memilih menaruh uangnya dalam bentuk tanah bisa dipahami Darmin. Pasalnya, kenaikan harga tanah lebih cepat dibandingkan bunga tabungan.
"Ini harus dipikirkan. Tidak bisa orang saving dalam bentuk tanah. Ini tidak sehat. Selain harga tanah jadi melonjak-lonjak begitu saja tetapi yang lebih buruk adalah saving di surat berharga dan di perbankan tidak setinggi yang seharusnya, " ujarnya.
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, rasio kepemilikan tabungan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih sangat rendah yakni sekitar 31 persen. Angka tersebut masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan Singapura sebesar 49 persen, Filipina sebesar 46 persen serta China sebesar 49 persen. (gir/gen)